Merakit Sirat Kait

Untuk menyapa saksi bisu, bungkam dulu lisanmu.

Foto: Aushaf Widisto, 2018

Untuk angin sepoi-sepoi:

Siang hari hampir memukul dua belas.
Surya terik menggilas tanpa welas kasihan
bagi mereka yang terpisah setengah lingkar dari
lantunan azan magrib, juga mereka yang imannya raib.

Dedaunan bergemerisik ingin diranggaskan,
lupa minggu lalu diguyur hujan yang sekarang tak bersisa.
Kamu pun mengungsi di kafe hedonis penguras harta orang tua.

Aku di beranda, kehabisan sangu.

Hanya semilir sendalu yang menyelamatkanku,
mengirim hawa sejuk dan kabar dari kecamatan sebelah —
— tentang manusia yang mengambil alih peran hakim, juri, dan algojo; antara tak bisa memilih atau terlalu rakus. Ketiganya direnggut sekaligus.

Kenapa tidak jadi Tuhan saja sekalian?

Dengan atau tanpa kewajiban puasa, kita semua sama-
sama rindu pada senjakala dan sanak saudara. Kepulan asap rokok,
nasi bungkus, dan es kelapa muda turut mengangguk pertanda setuju —

— merayakan cipta tanpa ribut surga atau neraka.

Tertanda, yang pesannya kau bawa.

Untuk lembaran penukar nasib:

Aku mengerti rasanya serakah di luar fitrah, seperti pernah berharap menjangkau langit dan merengkuh rembulan. Merogoh saku dalam-dalam meski sadar dasarnya berlubang, mau tidak mau menyodorkan tangan kosong sebagai tawaran harga yang niscaya ditolak mentah-mentah.

Kita membuang separuh hidup untuk bekerja setengah mati, agar sisa seperduanya lagi bisa dihabiskan dengan bahagia. Luput memahami bahwa hari ke hari sama dengan lahir sampai tamat. Tiba-tiba sudah dijemput selagi sibuk menabung, sebelum sempat foya-foya sudah keburu wafat.

Langgananku baru gerobak cendol keliling dan sarnafil pasar jumat, belum karib dengan segala yang dibintangi lima kali dan dikelaskan terlalu atas. Karena untuk menebus yang mahal butuh usaha keras — atau mental maling setingkat eselon pertama wakil masyarakat.

Sampai suatu saat hartaku tertimbun menggunung seperti karun. Kubeli segalanya: kesetiaan penguasa dari empat puluh negara, hak asasi sepuluh ribu hamba sahaya, dan sumpah pernikahan bergaransi sepanjang usia. Menenggelamkan segenap nafsu hanya untuk bisa rindu pada masa-masa sesederhana dahulu.

Bagimu, dunia adalah apa yang bisa kau miliki. Selebihnya hanya pengganggu. Perlu waktu untuk belajar menerima kasih lalu membagikannya kembali, hingga tak ada lagi yang mengganggu —

— dan sedikit yang kau punya menjadi seluruh dunia.

Tertanda, yang gentar diperbudak angka.

Untuk yang lekas menjelang:

Masa depan akan datang dalam lima bulan.
Sudah tak ada waktu untuk memikirkan perempuan —
— apalagi sampai jatuh cinta. Pada titik ini hanya mimpi
yang harus dikejar, tak ada lagi yang kedua dan seterusnya.

Lantas jemari kelu seketika menyentuh papan ketik.
Teh hijau dan lagu tidak membantu, setumpuk buku
menunggu dibaca barang sehalaman. Obrolan teman ke
teman mungkin besok saja, kita bertemu di tempat biasa.

Terlalu lama malah mengumpulkan debu dan bukan
cahaya. Waktunya rana kembali dibuka jika memang ia
dimaknai sebagai vokasi, tidak semata rekreasi. Pelosok kota
berharap dijamah bukan cuma disaksikan maya pada punca sebelah.

Namun bagaimana lagi, tetap terasa dosa untuk pergi.
Gerbang terbuka, jalan menghampar rata, sementara
aku tidak bisa ke mana-mana. Maka kembalilah ke atas
kursi, hadapan meja. Menangkap cita-cita lewat layar LCD.

Sebagaimana tercantum pada namanya: tugas ini minta diakhiri.

Tertanda, baru juga bab dua.

Penjara Batin
Frigg, 1 Juno
A.D. 2018

Mengejar gelar sarjana saja sudah begini, bagaimana nanti mencari kerja dan membina keluarga?

Belum lagi kelak melepas samsara, meraih moksha.

Jauh.

_

Weaving insights from Philosophy, Psychology, and Urbanism to make sense of the human condition.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store