Tentang Cerita

Apa mau dikata, ia bukan orang yang biasa terlarut dalam ambisi, tak pernah menggantung mimpinya terlalu tinggi. Selain karena takut tangannya tak sampai, juga belum ada yang mampu memaksanya untuk berusaha menggapai.

Mungkin itu hanya salah satu kepengecutannya, buah dari pandangan skeptisnya kepada dunia.

Meski hari-harinya terbilang sederhana seperti sekarang pun ia tak pernah terlalu kecewa. Di kala semua yang ditemuinya setengah mati mengejar harta, tahta, atau wanita; yang selalu ia butuhkan hanyalah cerita.

Mungkin itulah kenapa ia selalu membawa buku. Setidaknya satu di dalam ranselnya, dan satu lagi di saku belakang celananya.

Bentuk cerita apa lagi yang lebih mudah ditemukan selain buku? Baiklah, sebenarnya ada banyak, tapi buku adalah yang paling ia suka. Asalkan cerita di dalamnya menarik maka ia akan membacanya, mulai dari yang selugas komik hingga sesakral kitab suci.

Namun sayang, perhatiannya tak pernah lebih besar dari ketertarikannya. Ia akan menutup buku seusai membaca satu-dua bab, leha-leha sejenak selagi sempat, baru membukanya lagi setelah sekian menit terlewat. Hingga kini belum ada buku yang bisa mengikat atensinya cukup lama untuk ditamatkan dalam satu dudukan. Tapi ia selalu mencari buku seperti itu — jika memang ada.

Tidak semua bahasan mudah dimengerti, tapi ia selalu rela untuk setidaknya mencoba meski ujung-ujungnya tetap tak mengerti. Ketika itu terjadi, biasanya ia menyerah begitu saja karena merasa sudah mencoba. Pantas saja hidupnya stagnan, ia terlalu cepat puas.

Maka ia membuat janji pertama: Ia akan menyelesaikan apapun yang telah dimulainya. Tak akan lagi berhenti separuh jalan, selain untuk sesaat saja beristirahat dan setelahnya melanjutkan kembali.

Mungkin itu juga kenapa ia begitu sering menelusuri katalog musik di dunia maya.

Ketika menemukan lagu aneh yang tidak terkenal namun kebetulan cocok di telinganya, ia sering senyum-senyum sendiri. Pertama karena lagunya memang enak didengar. Kedua karena tak ada orang lain yang tahu lagu ini. Entahlah, baginya ada semacam rasa kepemilikan semu dalam hal-hal seperti itu.

Terlepas dari kegandrungannya yang cenderung mengarah pada musik berlabel indie, ia tak pernah mengklasifikasikan dirinya sebagai pengagum musik yang berasal dari genre, era, atau negara tertentu. Mengingat bahwa ia bukan veteran dalam bidang musik, preferensinya tidak memiliki dasar apa-apa selain karena suka begitu saja.

Tapi ia bisa bilang bahwa lirik lebih menarik baginya daripada nada, meski nyatanya beberapa lagu tetap mampu bercerita tanpa kata-kata. Dan ia bukan tertarik pada yang lebih cantik, hanya yang lebih mudah dimengerti — lagipula keduanya sama-sama indah.

Ada sepercik kemunafikan dalam dirinya. Menilai sesuatu hal indah tapi lantas malah diabaikan. Sekiranya bisa ditentukan sebabnya, mungkin karena ia terlalu cepat bosan. Setiap satu saat berlalu dan tiba saat berikutnya, ia akan selalu membutuhkan hal baru, dan daftar putar lagu hanya salah satu dari hal-hal yang dimaksudnya.

Maka ia membuat janji kedua: Ia takkan pernah berhenti mencari hal-hal baru. Paling tidak, hingga tiba saatnya ia menemukan satu hal yang bisa membuatnya suka sampai akhir — atau bahkan setelahnya.

Mungkin lagi, itu juga kenapa dia sering mengurung diri di kamar dan menonton film seharian.

Semoga semesta memberkati orang yang menciptakan kamera perekam gerak, karena tanpa dirinya takkan pernah ada sinema.

Beberapa cerita lebih menarik ketika diinterpretasikan sebagai rangkaian gambar hidup. Di saat tulisan terbatas pada netra dan musik terbatas pada rungu, sebuah film dapat mencakup keduanya sekaligus. Mungkin itu yang membuatnya relatif lebih menarik dan memicu candu.

Terlepas dari segala keunggulan cerita yang ditampilkan dalam wujud film, ia tak pernah menjadikannya sebagai pilihan pertama. Mungkin karena buku memberinya lebih banyak izin untuk berimajinasi. Sebuah film sanggup membuatnya hanyut, tapi buku lebih dari sanggup membuatnya tenggelam.

Tergantung suasana hatinya, kadang pun ia merasa bahwa hanyut saja sudah cukup. Karena untuk tenggelam dengan selamat harus menahan napas, dan tidak setiap saat ia mau repot-repot menghirup udara.

Tak cuma sekali dua kali ia lupa daratan ketika alur cerita sudah membawanya terlalu jauh, padahal berbahaya jika tidak segera kembali ke tempatnya tadi berada. Saking sudah terbiasa diarahkan, ia semakin malas saja untuk kembali berjalan dengan kaki sendiri.

Maka ia membuat janji ketiga: Ia takkan lagi membiarkan dirinya terbawa arus. Senyaman apapun rasanya hanyut mengambang, ia takkan pasrah begitu saja. Tak ada yang boleh memiliki kendali atas dirinya, selain takdir dan dirinya sendiri.

Mungkin lagi untuk yang kesekian kali, itu juga kenapa ia senang memerhatikan sekitar. Meski kadang alurnya begitu-begitu saja, tapi cerita apa lagi yang lebih nyata dari yang ada di hadapannya?

Seringkali, sekedar memerhatikan sudah lebih dari cukup untuknya. Karena tidak semua yang ia lihat cukup menarik untuk ditelusuri lebih lanjut. Bisa dibilang ia memang terlalu pilih-pilih, terlalu banyak mematok syarat untuk melanjutkan dari observasi menjadi interaksi.

Setelah memasuki obrolan pun ia masih sempat-sempatnya membisu. Bukan apa-apa, ia lebih suka mendengarkan cerita kawan dan lawannya ketimbang bercerita tentang dirinya sendiri. Tapi percayalah meski lisannya tertutup, namun telinganya selalu terbuka dan waktunya selalu tersedia.

Kadang ia bingung memilah ceritanya sendiri, karena satu bab dalam kisah hidupnya adalah kumpulan paragraf dari kisah orang lain. Ia selalu bertanya-tanya apakah ada bagian yang orisinil, yang miliknya seorang saja seutuhnya.

Inilah jawaban yang ia dapatkan:

Maka ia membuat janji terakhir: Ia akan selalu belajar untuk berkarya, untuk memberi bentuk konkret pada isi kepalanya yang abstrak. Dan sebelum mati, ia harus meninggalkan cerita yang melampaui penulisnya.

Penjara Batin
Odin, 27 Julius
A.D. 2016

Akhir-akhir ini aku semakin akrab dengan malam dan semakin asing dengan pagi. Juga semakin alpa dengan tanggal dan hari. Gawat.

_

Written by

I write about all things human.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store