Susun Puing

Bumi asing ini tengah dikepung semilir beku. Suhu udara mondar-mandir antara satu dan sepuluh derajat, itu pun kalau langit sedang kering. Kenyataannya, tiap dua-tiga hari sekali, rinai membasahi badan jalan dan badanku — yang selalu malas memeriksa ramalan cuaca dan malah sembarangan bersepeda.

Meskipun aku menggigil sendiri sepanjang hari, setiap hari; ada saja panggilan atau pesan singkat bodoh yang menghangatkan, lalu mengingatkan, bahwa aku masih punya rumah saat pulang kampung nanti:

Dari yang mengaku krisis menjelang kelulusan, bingung mengerjakan tugas akhir tapi segan bimbingan, hingga merasa hampa karena perkembangan dirinya begitu-begitu saja; aku bingung (dan senang) melihat mereka masih memilih untuk mencariku yang jauh, padahal yang dekat pun ada.

Entah kenapa, tidak sedikit kawan yang datang kepadaku membawa masalah. Antara aku ini magnet musibah, atau obat gundah — mudah-mudahan yang kedua. Aku cengar-cengir saja. Mengusir beban dari pundak orang lain, rasanya sama seperti membiarkan mereka kembali mengurut pundakku. Ringan, lega, sama-sama.

Di sela-sela cerita mereka, menggeser bahasan yang lain, acap kali muncul banyak bentuk dari satu pertanyaan yang sama:

“Kak, kenapa belakangan ini lo rajin banget nulis? Tapi Bahasa Inggris mulu, dikunci lagi. Kan gue gak bisa baca.”

Alasan pertamanya sederhana, dan sama sekali tidak keren: Berkat pagebluk keparat ini, berburu pekerjaan jadi sukar. Sisa nafkahku tinggal dari menulis dan bersepeda mengantar makanan (sambil hujan-hujanan). Kalau tidak menulis, bisa-bisa aku cuma mengantar makanan tapi tidak bisa makan.

Alasan selanjutnya, mari kita selisik ujaran para ahli:

  • Ujar Pramoedya Ananta Toer, menulis adalah bekerja untuk keabadian;

Sedangkan ujarku, tak tahu.

Dulu aku pernah tahu, dan kalau kamu bertanya pada saat itu, jawabanku takkan jauh-jauh dari “mengosongkan pikiran,” “menuangkan perasaan,” atau “menyampaikan pesan.”

Barangkali, ketiganya masih berdering betul sampai taraf tertentu, tetapi sudah bertahun-tahun aku tak pernah lagi mempertanyakan alasanku menulis.

Dalam perihal ini, agaknya kenapa adalah kata tanya yang usang, untukku sudah lama tergantikan. Sudah bertahun-tahun pertanyaannya bukan kenapa lagi, tapi bagaimana-tidak.

“Kak, kenapa belakangan ini lo rajin banget nulis?”

Dik, selagi aku sejauh ini, menulis bisa (setidaknya mencoba) mewakiliku merangkum ceritamu, menegur ulah-ulah usilmu, dan memberimu nasihat; sambil melakukan yang sama untuk siapa pun yang membaca.

Kalau dengan tindakan sekecil ini aku bisa punya andil dalam memperbaiki dunia, meski hanya sebagian yang sama kecilnya, meski bagian kecil itu hanya seukuran biji zarah; maka aku harus menulis — bagaimana bisa aku tidak menulis?

Perpustakaan Ladangkol
Tyr, 30 Juno
A.D. 2020

Tenang, selain satu hal ini, aku masih pemalas yang sama.

_

Written by

I write about all things human.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store