Sekalipun Ini Fana, Aku Harus Menulisnya

Tentang Pak Sapardi yang senantiasa sederhana.

Kemarin, datang lagi satu berita duka dari tanah air. Indonesia telah kehilangan banyak sosok sepanjang 2020, tapi, sejauh ini kepergian Sapardi Djoko Damono adalah yang paling membuatku pusing.

Layaknya sebagian besar orang yang berduka atas kepergian beliau, aku tidak pernah bertemu langsung dengan Pak Sapardi, apalagi berkenalan secara personal.

Yang kukenal dari seorang Sapardi Djoko Damono, hanyalah potongan-potongan dirinya yang tersemat dalam sajak dan puisi. Mungkin kamu pun begitu? Sekalipun tak pernah bertemu, kita bisa merasa akrab dengan Pak Sapardi hanya melalui kata-kata yang beliau tuliskan.

Aku tak bisa membayangkan rasanya bagi yang mengenal Pak Sapardi secara pribadi: Sanak kerabat, sahabat, ataupun mahasiswa-mahasiswi beliau di UI. Apa pun yang kurasakan sekarang, pasti mereka merasakannya berlipat ganda.

Sempat terlintas dalam benakku: Aku bukan siapa-siapa. Layakkah aku bersedih? Tentu saja, itu pertanyaan konyol. Siapa pun itu, termasuk aku, dan kamu, jelas boleh-boleh saja sedih meski tak punya koneksi langsung dengan Pak Sapardi.

Entahlah. Aku punya beberapa kawan yang cukup snobbish untuk perkara sastra. Kadang-kadang, aku jadi segan menyatakan pendapatku tentang hal-hal semacam ini, karena riskan mengundang komentar-komentar yang bernada skeptis, seperti: “Emangnya lo pernah baca bukunya X? Kalo udah baca, ngerti ga?” atau “Ah, sok-sokan baca bukunya X biar dibilang intelektual/sophisticated/edgy.”

Tapi aku mengerti kenapa mereka bersikap seperti itu. Aku sendiri pun sering bersikap serupa kepada orang lain. Kurasa, sebenarnya aku pun snobbish juga. Aku mengerti alasannya. Karena seorang karbitan — orang yang “cuma ikut-ikutan” — itu menyebalkan sekali.

Dulu aku pernah menulis tentang fenomena “ikut-ikutan,” dan kenapa hal itu tak hanya menyebalkan tapi juga berbahaya. Pendapatku soal ini masih sama sampai sekarang.

Keduanya sama-sama menyebalkan, tapi aku lebih pilih jadi snob ketimbang karbitan.

Banyak orang mengaku sedih atas kepergian Pak Sapardi, tapi seberapa banyak, sih, di antara mereka, yang setidaknya pernah membaca karya beliau? Sekadar membaca saja, tak perlu muluk-muluk mengerti maknanya. Itu saja aku ragu.

Sekalipun pernah membaca, mereka yang ikut-ikutan ini kebanyakan hanya kagum-kagum saja, tapi tidak mencoba mengerti. Di situ letak menyebalkannya: Mereka bukannya tidak bisa mengerti — hanya tidak mau mencoba.

Kenapa aku snobbish sekali soal ini, padahal aku sendiri tidak suka dengan perlakuan teman-temanku yang sama snobbish-nya?

Alasannya cuma satu: Karena dikagumi tanpa dimengerti adalah nasib yang menyedihkan bagi seorang seniman. Dan aku tak terima jika karya orang sebaik Pak Sapardi tidak dihargai sebagaimana mestinya.

Namun, di akhir hari aku selalu introspeksi. Ini bukan hal yang bisa kukendalikan, maka sepatutnya ia kulepaskan — setidaknya begitu menurut prinsip dasar filsafat Stoa.

Lagi pula, aku sendiri belum mengerti-mengerti amat dengan karya Pak Sapardi. Sepanjang usia, beliau sudah menerbitkan sekitar 50 buku. Dari 50 itu, yang sudah kubaca ada berapa? Mungkin baru 10. Aku masih perlu belajar lagi. Aku tahu.

Meskipun begitu, dari beberapa yang pernah kubaca, sedikit-sedikit aku mengerti kepiawaian beliau dalam menulis. Mengerti cara menyentuh orang lain sekadar menggunakan kata-kata. Dengan sederhana. Kata-kata Pak Sapardi selalu sederhana, tidak banyak koar-koar seperti pidato politisi atau konten medsos influencer.

Sungguh, melebihi kelas Bahasa Indonesia selama dua belas tahun sekolah, aku belajar lebih banyak tentang bahasa dari karya-karya Pak Sapardi. Jika tak pernah membaca karya beliau, dan sastrawan-sastrawati senior lainnya, mungkin sampai sekarang aku masih tak berani menulis.

Menurutku, ini cara terbaik untuk menghargai karya seorang seniman, sesuai urutan: Mengagumi, memahami, mencipta.

  • Kagum saja tak cukup. Itu terlalu dangkal, semua orang juga bisa. Tinggal lihat, lalu mengaku, “aku suka.” Tapi kagum tetap harus ada sebagai tahap pertama, karena semua dimulai dari sana.
  • Usai kagum, mulailah coba memahami. Identifikasi, analisis, sintesis. Kenapa beliau menulis ini? Apa yang hendak beliau sampaikan? Bagaimana cara beliau menentukan diksi dan merangkai struktur bahasan?
  • Dan terakhir, ciptakan karya pada taraf yang sama. Dalam konteks ini, menciptakan adalah menulis. Itulah apresiasi tertinggi. Jauh melampaui kagum dan paham.

Tentu tak bisa langsung begitu saja. Sekian puluh tahun Pak Sapardi mengasah kebolehannya beraksara, jangan harap bisa menyamainya dengan pengalaman yang satu dekade saja belum ada. Itu pun kalau rajin menulis setiap hari. Lebih jauh lagi, tak usah pula berharap jadi penulis kalau masih malas baca KBBI dan PUEBI.

Demikian, cara terbaik untuk mengenang seseorang adalah meneruskan perjuangannya. Maka, cara terbaik untuk mengenang Pak Sapardi adalah menjadi Pak Sapardi yang baru.

Barangkali, Pak Sapardi yang baru bukan aku. Seratus persen bukan aku. Indonesia punya banyak penulis muda yang lebih menjanjikan. Karya-karya mereka sering kupungut dari sela-sela rak Gramedia. Kadang juga dari Post atau Aksara.

Sedangkan karyaku belum ada sama sekali di tempat-tempat itu. Kamu cuma akan menemukannya di Medium, dan di beberapa majalah kecil yang hampir tak pernah dibaca siapa-siapa.

Tulisanku tak selalu bagus, aku pun sering meragukan kemampuanku, tapi aku tetap menulis. Aku tak tahu kenapa, tapi selalu ada yang membaca. Makanya aku tak pernah memikirkannya lagi.

Tugas penulis hanya menulis. Selebihnya tinggal masalah waktu — dan waktu itu fana.

Andai kita sempat bertemu, mungkin Pak Sapardi akan menasihatkan itu.

Sugeng tindak, pak. (Foto: CNN Indonesia)

Untuk menutup, aku ingin meminjam lirik dari Lagunya Begini, Nadanya Begitu karya Mas Jason Ranti alias Jejeboi:

“Hei, Pak Sapardi. Doa kami kirim dari sini.”

Sebagian doaku berbunyi seperti ini:

Bahasa Indonesia adalah bahasa yang luar biasa cantik — semoga para penuturnya selalu mengerti itu. Selalu sungguh-sungguh memaknainya dari karya sastra sampai percakapan sehari-hari. Semoga kebanggaan itu selalu lestari.

Siapa pun itu, semoga selalu ada yang meneruskan perjuangan Pak Sapardi.

Lingkar Myora
Máni, 20 Julius
A.D. 2020

Tulisan ini lebih acak-acakan dari biasanya, karena aku pun acak-acakan menulisnya. Kali ini aku tak mengejar sempurna — hanya sederhana.

_

I write to comprehend humanity. If you enjoy my stories, consider buying me a coffee: ko-fi.com/aushaf.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store