Seinsvergessenheit

Lupa adalah anugerah, lupa adalah kutukan.

Foto: Aushaf Widisto

“Indra tidak membuat kita bisa mengenali entitas dalam sebuah keberadaan; ia hanya dapat mengemukakan bagaimana hal-hal eksternal dalam dunia ini berguna atau berbahaya bagi makhluk manusia yang dibebani dengan jasad. Ia tidak memberitahu kita apa-apa tentang entitas dalam keberadaan.”

Martin Heidegger, Sein und Zeit

Aku ingin memulai ini dengan melempar sebuah pertanyaan:

Untuk apa aku ada?

Kurasa siapa pun yang sering meluangkan waktu untuk berbicara dengan dirinya sendiri, suatu saat pasti akan sampai pada pertanyaan itu. Belum lagi itu terjawab, lalu muncul pertanyaan-pertanyaan lain yang sama sukarnya untuk dijawab.

Untuk apa ini ada? Untuk apa itu ada?

Untuk apa semesta ada?

Senangnya mereka yang tak pernah melamun. Tak perlu berbincang terlalu larut dengan dirinya sendiri. Tak perlu mempertanyakan hal-hal yang bahkan tak bisa mengajukan keberatan kalaupun tak pernah dipertanyakan.

Aku belum bisa menjawab pertanyaan itu. Dan mungkin akan tetap begitu untuk waktu yang tak tentu.

Menurut Kierkegaard, yang bertanggung jawab atas pemberian makna keberadaan hanyalah ia yang memiliki keberadaan tersebut. Makna keberadaanku adalah tanggung jawab untuk diriku, dan keberadaanmu untukmu. Aku takkan pernah menemukan makna keberadaanmu, dan kau pun sebaliknya.

Jika Tuhan tahu pun, Ia takkan memberitahukannya begitu saja. Meski kau bertanya dalam doamu, Ia takkan menjawab. Anggaplah itu perintah dari-Nya bahwa kau harus mencarinya sendiri.

Karena jika kau tak mencarinya sendiri, sia-sialah keberadaan itu diberikan padamu.

Menjadi manusia adalah menjadi pelupa. Besar atau pun kecil, segala yang punya makna akan terlupakan oleh ingatan manusia.

Menjadi pelupa adalah menjadi sombong. Manusia menjadi sombong bukan karena ia merasa dirinya paling tinggi, namun karena ia lupa akan kenyataan di atasnya. Andaikan ia mampu mengingat, ia takkan berani menyombongkan diri.

Melupakan adalah salah satu kesombongan manusia yang paling kejam. Kejam karena dilakukan dengan sengaja meski tanpa kesadaran. Mungkinkah kesengajaan dilakukan tanpa kesadaran? Rupanya mungkin, jika lupa.

Lebih baik aku coba bercerita dengan perumpamaan.

Semua yang punya keberadaan mempunyai makna, tak hanya manusia. Hewan, tumbuhan, bahkan benda mati pun juga.

Katakanlah ada seekor kuda. Ia mempunyai makna keberadaannya sendiri, yang takkan pernah diketahui siapa pun kecuali dirinya. Namun manusia melupakan fakta itu, dan dengan sombongnya memberi makna pada keberadaan kuda. Manusia berkata: Keberadaan kuda adalah untuk menjadi tunggangan kami.

Katakanlah ada sebuah pohon. Ia juga mempunyai makna keberadaan, yang takkan pernah diketahui siapa pun kecuali dirinya sendiri. Sekali lagi, manusia melupakan fakta itu. Mereka berkata: Keberadaan pohon adalah untuk memberi kami keteduhan.

Terdengar kejam? Mungkin tidak, karena itu adalah hal yang sangat lazim. Kita melakukannya dengan sengaja, namun tanpa sadar. Kita menjadi sombong karena lupa.

Coba perhatikan perumpamaan selanjutnya.

Setiap manusia punya makna keberadaannya masing-masing. Aku, kamu, dia, dan mereka. Sadarkah bahwa kau telah dengan sombongnya melupakan makna semua orang selain dirimu sendiri?

Katakanlah ada seorang nakhoda. Kita takkan pernah tahu untuk apa ia ada, karena hanya ia yang mungkin tahu. Namun kita berkata: Ia ada karena ia mengarahkan kapal ke tempat yang kutuju.

Katakanlah ada seorang guru. Kita akan berkata: Ia ada karena ia menurunkan ilmunya padaku.

Katakanlah ada seorang sahabat. Kita akan berkata: Ia ada karena ia memahamiku dan bersedia menjadi tempatku bercerita.

Dan begitu seterusnya, kita lakukan itu pada semua orang.

Sudah terdengar kejam? Mungkin masih belum. Agaknya, tindakan seperti demikian sudah terlalu lazim hingga tampak menjadi sesuatu yang wajar.

Kurang-lebih, pengertianku seperti ini:

Manusia selalu berusaha memberi makna pada keberadaan apa pun yang berada di luar dirinya. Ia lupa, bahwa ia tak berhak melakukan itu. Ia lupa bahwa makna apa pun yang ia buat takkan pernah sempurna, karena memang ia takkan mampu. Makna yang tercipta hanya akan berupa pandangan satu sisi. Namun terus saja ia berusaha melakukannya. Terus saja ia lupa.

Manusia memaknai semesta, karena ingin memaknai dirinya sendiri. Ia merasa keberadaannya dibentuk oleh semesta tempatnya berada, dan mencari makna dirinya dalam semesta itu. Hingga pada akhirnya ia lupa mencari di dalam dirinya sendiri.

Mungkin itulah yang kuanggap kejam. Demi mencari diri, manusia kehilangan diri. Makna diri yang nyata terabaikan, terbiaskan dalam pemaknaan semesta yang maya. Dengan berjalan terlalu jauh, terlewatlah tujuan yang dekat.

Dalam upaya memaknai keberadaan, keberadaan itu sendiri telah dilupakan.

Q.E.F.

Penjara Batin
Thor, 11 Februus
A.D. 2016

Ditulis ala kadarnya sebagai upaya memahami Seinsvergessenheit, terlupakannya keberadaan.

_

Weaving insights from Philosophy, Psychology, and Urbanism to make sense of the human condition.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store