Telaah Tukar Kalender

Tahun yang Lalu dalam Pelajaran

Kalau membaca berita atau mendengar diskusi orang, ada pengertian yang tertanam dalam benak saya bahwa topik yang terbilang “penting” dan layak untuk dibahas secara serius tidaklah jauh-jauh dari tujuh belas poin SDGs: ekonomi, pendidikan, kesehatan, lingkungan, dan sekawannya yang lain.

Memang sudah sepatutnya hal-hal tersebut dianggap urgen dan esensial, mengingat kaitannya erat dengan kualitas hidup manusia sebagai spesies — bukan sekadar manusia sebagai individu.

Namun entah, mungkin nalar saya belum cukup memadai untuk memikirkan hal-hal makro. Padahal empat tahun terakhir dalam hidup dihabiskan untuk mempelajari segala hal yang urban dan regional, tapi yang kerap mengusik benak saya malah selalu saja berasal dari ranah psikologi dan filsafat dasar.

Dua subjek tersebut pun merupakan bahasan yang bermanfaat. Hanya saja, saya merasa keduanya merupakan jenis pengetahuan yang mau bagaimana pun sudah pasti akan tersemat dalam lapisan hidup sehari-hari, sehingga tidak perlu saya jadikan fokus utama. Lagipula saya hanya mempelajarinya sebagai hobi, dan tanpa memiliki kualifikasi serta sertifikasi sah, kecil kemungkinan saya dapat menggunakannya untuk berkontribusi ke masyarakat.

Paling-paling manfaatnya akan lebih banyak untuk diri saya sendiri, sebagai pedoman laku hidup — dalam berpikir dan bertindak.

Ada sepatah jawaban-setengah-bercanda yang sering saya lontarkan pada kawan yang menegur ketika saya terlihat sedang pusing menekuri urusan saya sendiri. Senada dengan potongan kalimat seperti: “Iya gue emang suka gitu — bangun tidur, ngelamun, tau-tau udah malem.”

Saya yakin tidak sedikit orang yang punya kecenderungan serupa. Satu pikiran bersambung ke pikiran berikutnya, seperti gerbong kereta. Makanya ada istilah train of thought.

Pada titik ini saya sudah agak pasrah dengan sifat demikian, yang gerangan tidak bisa diubah. Paling banter, yang bisa saya lakukan adalah mengalihkan tendensi berpikir terlalu larut tersebut ke hal yang lebih positif. Misalnya dengan mengambil tanggung jawab di organisasi, yang akan memaksa diri saya menghabiskan kuota pikiran demi maslahat banyak orang alih-alih untuk masalah pribadi.

Saya melakukannya dengan reasoning bahwa, apapun yang terjadi, waktu dan tenaga saya akan habis untuk berpikir. Jadi, ya, might as well make it worthwhile.

Kalau saya memang pasti dan harus-terus-menerus merenung, biarlah renungan saya terpakai untuk kebaikan.

Dalam pencarian makna hidup yang mengantar saya pada gagasan sejenis ikigai dan raison d’être, saya pun jadi terbiasa menyimak pandangan orang lain tentang buat apa kita hidup.

Jawaban favorit saya ada pada salah satu ujaran almarhum Steve Jobs.

Konon, kutipan ini bukan diucapkan langsung oleh yang bersangkutan, melainkan oleh aktor yang mendepiksikan karakter beliau dalam sebuah film rilisan 1999. Namun ada sumber yang menelusuri bahwa ternyata Co-founder Apple tersebut memang pernah menyatakan gagasan demikian dalam sebuah wawancara media, sehingga kalimat fiktif berikut bisa dianggap sebagai parafrasa:

“We’re here to put a dent in the universe. Otherwise why else even be here?”

Meski banyak pemikiran serta tindakan beliau yang sebenarnya tidak sejalan dengan pedoman moral saya, tapi entah kenapa kalimat tersebut sungguh terdengar menarik. Semacam, wah, orang ini cukup berani (atau angkuh) untuk memaknai bahwa masa hidupnya di muka bumi adalah untuk meninggalkan bekas yang kekal pada wajah semesta.

Anggapan tersebut sebetulnya cukup masuk akal. Dalam dunia yang bergerak menyusuri dimensi waktu, segala yang fana akan musnah ketika saatnya tiba — termasuk kita.

Mungkin pesannya mirip dengan menulis adalah bekerja untuk keabadian-nya Om Pram. Sebaik-baiknya hidup, kalau mati tanpa menyisakan faedah apa-apa, kita akan hilang dari sejarah. Sebagaimana segala hal yang tak berarti.

Dengan logika itu, — menurut saya — pertanyaan yang lebih tepat bukanlah apa yang mau kita lakukan selama hidup, melainkan apa yang mau kita tinggalkan setelah mati.

Perkara dengan lingkup kecil, sekalipun penting (dan genting), mulai terasa tidak cukup bagi saya.

Sebagai seseorang yang terbilang beruntung karena masih punya atap untuk bernaung dan tidak perlu bingung besok mau makan apa meski cuma di warung, saya jadi merasa punya tanggung jawab tersendiri untuk turut mematok ambisi konstruktif yang lebih tinggi.

Rasanya, dalam konteks kehidupan, seharusnya bekerja jangan dibatasi sedangkal untuk mencari nafkah dan membiayai keluarga. Kalau nanti sudah sejahtera, sudah tidak perlu khawatir dengan sandang-pangan-papan, memang uang yang banyak itu mau dipakai apa? Meski sah-sah saja, sekadar membeli rumah mewah dan makanan enak sepertinya terlalu fana.

Mungkin bukan kebetulan ketika orang-orang terkaya di dunia malah banyak yang menggunakan hartanya untuk mendirikan yayasan filantropi.

Karena, kalau punya surplus rezeki yang cukup untuk menebus kebaikan umat manusia, kenapa tidak?

Dalam empat bagian sebelumnya, yang mungkin agak membingungkan karena kurang terstruktur, ada seutas benang merah yang hendak saya kemukakan.

Di tengah khalayak yang menjunjung tinggi personalisasi, saya merasa ada kebutuhan mendesak untuk memandang melampaui diri sendiri — untuk looking outwards, tidak hanya inwards.

Mungkin kamu sering dengar ada seseorang yang merasa belum pantas memikirkan masyarakat, karena dirinya sendiri masih belum bener-bener amat. Biasanya diikuti alasan yang mirip-mirip dengan anekdot berikut ini:

Kayak di pesawat tuh kalo lagi kondisi darurat, kita harus make masker oksigen sendiri dulu kan baru boleh bantuin orang lain?

Tak ada yang salah dengan anggapan demikian. Menurut saya memang menebar kebaikan akan lebih baik jika sesuai urutan: intrapersonal ke interpersonal ke ekstrapersonal.

Yang bagi saya mengganggu adalah ketika kebenaran tersebut malah dijadikan pembenaran untuk tidak berbuat apa-apa.

Baiklah jika sekarang kita merasa belum pantas, tapi kalau —katakanlah — sudah lewat setengah dekade masih saja belum, bukankah ada sesuatu yang perlu dibenahi? Jika dengan rentang yang dapat dibilang panjang masih tetap tak ada perkembangan, mungkin kita perlu bertanya lagi ke diri sendiri: saya sedang berusaha memantaskan diri atau saya sudah terlalu nyaman dengan ketidakpantasan?

Dunia sedang tidak baik-baik saja, dan mereka yang tersisa untuk menyelamatkannya malah larut, tak kunjung usai memusingkan persoalan personal, yang kalau dipikir-pikir, sebenarnya ya begitu-begitu saja.

Menurut saya, pada waktu tertentu, kita perlu mencukupkan pertanyaan tentang bagaimana cara untuk menjadi individu yang lebih baik, dan mulai bertanya tentang bagaimana cara menjadikan dunia tempat yang lebih baik.

Peace.

Pesiar
Saturnus, 12 Janus
A.D. 2019

Emang saya siapa sih kok sok tau banget.

_

I write to comprehend humanity. If you enjoy my stories, consider buying me a coffee: ko-fi.com/aushaf.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store