Rekuiem Nirnada

Mungkin ini terkesan arogan — aku mengaku, kamu?

Foto: Aushaf Widisto, 2018

I.

Dalam ilmu ekonomi kita sedikit belajar mengenai utilitas marginal. Singkatnya, konsep tersebut menjelaskan bahwa tambahan kepuasan yang didapat dari sebuah barang atau jasa akan memiliki nilai terbesar pada iterasi pertama lalu sedikit demi sedikit berkurang pada iterasi selanjutnya hingga nilainya semakin mendekati nol.

Kitab-kitab pelajaran biasanya menggunakan contoh berupa objek sederhana seperti sandang atau pangan, namun logika yang sama dapat diterapkan dalam meninjau kata-kata.

Permen yang manis pada butir pertama lama-lama akan hambar juga —

— dan kata-kata tertentu mungkin cantik pada torehan perdana. Sayangnya, sabda seindah apapun akan kehilangan arti jika terus-menerus diumbar tanpa dihayati barang separuh hati. Perlahan-lahan binasa dalam setiap repetisi.

II.

Sesungguhnya aku bosan setengah mati
tiap membaca karya literasi, terlebih puisi
dan bertemu sendu, senja, atau secangkir kopi.

Tak hanya sendu sekata yang
bisa meniupkan nyawa pada hawa
yang melayang-layang di udara saat di luar
turun hujan dari gerimis hingga deras hingga reda
selagi kamu terkunci di balik selimut dalam kamar sendirian
sambil diam membaca buku dan sesekali menatap ke luar jendela.

Tak hanya senja sekata yang
bisa melukiskan warna matahari
saat ia terbenam pukul lima atau enam
dengan tajuk oranye atau jingga atau lembayung
yang kamu lihat saat berada di pantai atau puncak gunung
atau dimanapun kamu diberkati untuk memandang hingga ujung cakrawala.

Tak hanya secangkir kopi dua kata yang
bisa menuangkan pikiran serta perasaan bersama
sewujud cairan yang berpindah wadah lagipula bisa saja ia
masuk ke gelas atau botol dan tak harus berada di atas tatakan dan
kafein pun juga ada dalam teh persik atau kakao hangat atau minuman
keras yang dilarang pemerintah lantas kenapa hanya satu yang kamu bela?

III.

Dulu, ketiganya adalah milik para pemerhati — mereka yang selalu lebih dari sekadar melihat saat dihadapkan pada hal-hal sesederhana mukjizat.

Para perasa,
pemikir,
perenung,
pelempar tanya,
pencetus gagasan,
pengukir sejarah.

Mereka yang mampu menerjemahkan stimulus monokrom menjadi warna mana saja dari ujung ke ujung spektrum cahaya.

Kini ketiganya direnggut oleh para sosialita, didangkalkan menjadi sebatas pendongkrak status berupa deskripsi potret di unggahan linimasa.

Mari kita mengheningkan cipta (atau menangis, boleh saja) untuk setiap kata yang kian hari kian tak punya makna, dikikis oleh oknum-oknum bebal yang kejam tak terkira — tega membunuh apa yang sejak awal sudah tak punya ruh.

Penjara Batin
Sol, 7 Maia
A.D. 2018

α : “Lantas seharusnya mereka milik siapa?”
א : “Bukan milik siapa-siapa, kurasa.”
α : “Tapi aku ingin semua menjadi milikku. Tak hanya mereka — segalanya: angkasa, rasa, sejenak, semesta; setiap yang disenandungkan dalam lagu dan dibisikkan dalam doa.”
א : “Mana mungkin, itu terlalu egois.”
α : “Bagi manusia, tentu.”

(keduanya diam untuk beberapa lama.)

α : “Jika bisa terlahir kembali, kamu ingin jadi apa?”

_

I write to comprehend humanity. If you enjoy my stories, consider buying me a coffee: ko-fi.com/aushaf.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store