Psikomakhia

Apa jadinya jika baik dan buruk tak kunjung selesai bertarung?

Keduanya sudah penuh luka dan kehabisan tenaga;
tapi tak ada yang menyerah, tak ada yang mau mengalah.

Foto: Aushaf Widisto

Makin lama aku makin merasa keliru jika menganggap jiwa sebagai kesatuan yang tunggal. Menurutku ia memang tampak satu, tapi di dalamnya lagi setidaknya ada dua. Bisa saja lebih, siapa yang tahu?

Mungkin aku salah, dan salahkanlah aku jika kau mau, tapi kukatakan ini bukan sebagai dusta.

Jika nyatanya ini memang dusta, maka berdukalah untukku, karena aku telah menjadikan dustaku sebagai kebenaran dan berpegang padanya sebagai pedoman. Berdukalah, tapi cukup sebatas itu saja, karena aku tidak meminta untuk diselamatkan.

Pertarungan baik dan buruk selalu ada sejak awal masa. Manusia telah merekamnya — dengan penekanan yang kadang agak berlebihan — dalam bermacam bentuk, baik historis maupun mitologis.

Moralitas adalah konsep yang abstrak, relatif sulit untuk dimengerti. Manusia selalu berusaha memberi nama dan bentuk padanya, agar dapat memahaminya lebih baik.

Contoh yang cukup menarik adalah dualisme kosmis Zoroastrian. Dalam ajaran Zoroaster, terdapat sosok Ahura Mazda yang digambarkan sebagai sesembahan tertinggi, perlambang asha (kebenaran). Ia memiliki antitesis, yaitu Angra Mainyu yang merupakan perwujudan dari druj (tipu daya).

Depiksi sosok Ahura Mazda pada salah satu dinding Throne Hall of Persepolis. (Sumber: https://www.flickr.com/photos/27784269@N06/2597265896)

Ahura Mazda , selaku Tuhan, senantiasa menciptakan hal-hal baru ke dalam dunia. Dan untuk setiap ciptaan yang turun ke dunia, Angra Mainyu akan selalu gigih menghancurkannya.

Angra Mainyu membunuh Gavaevodata, sang kerbau primordial. (Sumber: https://www.flickriver.com/photos/maryloosemore/tags/persepolis/)

Pertarungan keduanya selalu berlangsung, dan darinya lahirlah siklus-siklus dikotomis seperti hidup-mati dan siang-malam.

Dalam penggambaran ini, baik dan buruk terpisah sempurna. Perbedaan hitam dan putih terlihat sangat jelas. Seandainya moralitas dalam kehidupan nyata pun sejelas itu, mungkin segala sesuatunya akan lebih mudah.

Pada era modern ini, mayoritas penduduk bumi terbagi dalam sejumlah kelompok kepercayaan yang berakar dari ajaran Abraham. Banyak kepercayaan tersebut memiliki keunikannya masing-masing, dan satu takkan mau disamakan dengan yang lain. Namun, ada hal serupa yang terdapat dalam semuanya: penetapan standar moralitas.

Dan sekali lagi kita akan menemukan dualisme baik-buruk, sekarang tak lagi digambarkan dengan pertarungan Ahura Mazda dan Angra Mainyu. Kita mengenalnya dengan gambaran malaikat-setan, pahala-dosa, surga-neraka, dan sebagainya.

Pertarungan antara Ira (murka) dengan Patientia (kesabaran). Salah satu alegori baik versus buruk dalam manuskrip Psychomachia of Prudentius. (Sumber: https://www.revistamirabilia.com/sites/default/files/pdfs/2008_19.pdf)

Upaya pemisahan hitam-putih masih berlangsung hingga zaman ini. Detik ini malah, kalau boleh sedikit dramatisasi. Sebuah pertarungan yang agaknya takkan pernah lekang, bahkan oleh waktu.

Konsepsi moralitas yang bermacam rupa menurut kaum yang berbeda-beda, dipaksakan mematuhi satu standar yang baku. Tapi manakah standar moralitas yang paling baku?

Beberapa menjawab: yang berasal dari Tuhan.
Lalu ada yang bertanya: Tuhan yang mana?

Tuhanku!
Bukan, Tuhanku!

Lalu pengikut Tuhan yang bermacam-macam pun bertarung dengan segala cara. Demi memastikan bahwa baiknya-lah yang paling baik dan buruknya-lah yang paling buruk.

Dan mengerikannya, yang bertarung tak hanya para prajurit, tapi juga para pekerja, pelajar, semuanya.

  • Yang tak punya tenaga untuk mengangkat senjata, bertarung dengan pena.
  • Yang tak cukup cendekia untuk menggores tinta, bertarung dengan suara.
  • Yang tak punya nyali untuk meneriakkan isi hati akan tetap menyimpannya di hati, bertarung dengan penghakiman yang jatuh dalam sunyi.

Di ujung lisan saling mengucap bagiku untukku dan bagimu untukmu, namun di dasar kalbu saling yakin bahwa yang lain akan terbakar dalam siksaan abadi.

Beberapa insan putus asa melihat ketiadaan akhir pertarungan, dan memilih untuk mengundurkan diri. Mereka kebingungan, karena tidak pernah tahu bahwa hidup bisa dijalani berdampingan.

Mereka bersatu dibawah kebingungan, untuk bersama mencari jawaban. Tanpa lupa mendoakan keselamatan bagi saudara-saudarinya yang masih saja bertarung membela keyakinan.

Untuk yang kesekian kali, kunyatakan kebencianku pada penghakiman dan kecintaanku pada penerimaan. Apakah memaksakan keyakinan adalah hal yang demikian pentingnya hingga layak mengorbankan kedamaian?

Sebelum membuka kitab suci agama atau rangkuman hukum negara, tanyalah dulu pada nuranimu.

Ia sudah tahu jawabannya.

Q.E.F.

Sempadan Rel
Saturnus, 4 Juno
A.D. 2016

Ditulis sepulang dari perjalanan jauh yang sangat menyenangkan. Terkutuklah benakku yang tak bisa berhenti memikirkan benar dan salah bahkan di tengah kesenangan.

_

I write to comprehend humanity. If you enjoy my stories, consider buying me a coffee: ko-fi.com/aushaf.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store