Mala Tempora

“Ignorance, the root and stem of all evil.”

Plato

Ketidakpedulian dan kebodohan membawa jauh lebih banyak kejahatan dibandingkan uang atau nafsu. Dunia ini menderita, bukan akibat tindakan orang-orang jahat, tapi bungkamnya orang-orang baik.

Selasa tak pernah sehitam ini.

Ibu Pertiwi tengah marak dipersonifikasi. Sebagian orang bilang, ia menangis. Mendung, gerimis, hujan. Sekarang sudah air bah. Setetes air mata untuk setiap kabar nahas yang datang tanpa sela, tanpa sempat napas dihela. Hampir seluruhnya ulah manusia, bencana yang dipicu rencana.

Sekadar terpapar berita saja rasanya terusik sekali walau tak sepenuhnya mengerti. Saya tak habis pikir kenapa, misalnya, negara begitu peduli dengan selangkangan rakyatnya ketika ada isu-isu masif yang lebih layak dibahas. Kenapa, ya Tuhan, kenapa bisa ada manusia berakal sehat yang lebih memilih untuk mengurusi kumpul kebo ketimbang oknum korporasi serakah yang mengancam nyawa kita semua?

Agaknya perihal pendidikan, kesenjangan sosial, krisis energi, atau perubahan iklim masih dirasa kurang penting sampai-sampai ada waktu untuk menghasilkan undang-undang yang dirancang untuk menjajah ranah personal.

Papua sedang rusuh, Riau dan Kalimantan sedang kebakaran? Mari kita sahkan UU tentang hewan peliharaan. Mari tetapkan denda 1 juta untuk gelandangan. Mari kurangi masa tahanan untuk koruptor. Wow.

Sebentar, satu-satu.

Baku hantam-tembak di bumi timur. Partikel racun di udara utara. Angkasa memerah, berdarah. Pelanggaran hak asasi dibiarkan enam ratus Kamis tanpa sanksi. Kartun lugas disensor, tapi sinetron sampah dipersilakan. Prestasi bulu tangkis diredam atas dasar konyol. Aktivis dikriminalisasi. Komisi penegak keadilan dilemahkan.

Yang terbakar hutan, tapi harapan yang dipadamkan.

Sembari pusing merenungi semua musibah itu, saya berusaha menghibur diri dengan hal-hal yang masih bisa disyukuri.

Ternyata tidak sedikit mahasiswa-mahasiswi yang rela turun ke jalan. Polisi, meski pasti dirundung kemelut, tetap teguh menjalankan tugasnya menjaga keamanan. Media (dibantu warganet) gigih mewartakan peristiwa ke mata dan telinga kita.

Ternyata banyak yang peduli.

Setelah situasi mengeruh demikian jauh, jika perhatianmu masih lebih terpaku pada selfie mana yang paling cantik untuk diunggah ke Instagram, atau kedai kopi mana yang asyik untuk nongkrong sambil push rank; berhentilah sejenak. Sebentar saja.

Saya — atau siapa pun — tidak akan menyuruhmu melakukan apa-apa. Karena kamu sudah tahu, kan, apa yang seharusnya dilakukan?

Mungkin ini cuma saya, tapi kalau betul Ibu Pertiwi sedang menangis, saya mencoba percaya bahwa hanya sebelah mata yang menangis sedih. Sebelahnya lagi tangis haru.

Meski perlu dipancing malapetaka, setidaknya, putra-putrinya bangkit juga.

Boleh dibilang, tulisan ini disusun sambil mengeluh sekaligus introspeksi konstan. Banyak sekali hal yang salah di negeri ini, tapi saya tidak mengerti cara memperbaikinya. Saya cuma bisa menulis, makanya saya menulis. Tulisannya pun cuma gerutu, nihil statistik valid maupun alur koheren.

Jujur, saya jarang meminta maaf, namun saya merasa tulisan ini perlu ditutup dengan permintaan maaf.

Mabibili
Tyr, 24 Septem
A.D. 2019

Baik-baiklah di mana pun berada.

_

I write to comprehend humanity. If you enjoy my stories, consider buying me a coffee: ko-fi.com/aushaf.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store