Loganamnosis

Tarik lagi, lupa ‘kan apa yang dicari.

Foto: Aushaf Widisto, 2018

I.

5:35 PM — pertengahan Oktober.

F: “Selamat dulu lah sap. Welcome to the real depression. Wkwkwk.”

A: “Wkwk anjing, makasih apa engga nih.”

F: “Makasih lah, itu sebuah peringatan wkwk.”

A: “Belom siap gua lulus.”

F: “Ga ada yang siap sap. Saran gua jangan terlalu dirasakan aja.”

II.

Apa saja yang agaknya layak menjadi satuan penakar derajat manusia?

Beberapa hal yang sempat tebersit:

  • paras yang elok,
  • lahir yang sehat,
  • akal yang cemerlang,
  • akhlak yang luhur,
  • kuasa yang utuh,
  • harta yang penuh,
  • jejaring yang jitu,
  • selera yang apik,
  • manfaat yang sah.

Mungkin itu. Apa lagi, menurutmu?

III.

Waktu masih kecil, aku sering diomeli oleh bunda karena malas merapikan kasur. Buat apa diberesin, nanti juga berantakan lagi — tukasku, bandel. Lalu argumenku dibantahnya dengan logika yang sama: Ya udah kamu ga usah dikasih makan ya, nanti juga laper lagi.

Konversasi sepele itu rekat di benakku hingga hari ini, entah kenapa. Pesannya terpahami meski tetap saja kemalasanku keras kepala. Tempat tidurku masih selalu sengaja kubiarkan rusuh bahkan sesudah dewasa.

Entahlah, beberapa hal terasa lebih baik justru jika diubrak-abrik.

IV.

“I think about the love we won’t discover, living like we do.”

Non Lo So, Yumeno Garden

Menurutku, sungguh sayang sekali ketika ada dua orang yang sebenarnya cocok namun tak kunjung terjalin ikatan apapun antar keduanya, hanya karena kurang punya kesempatan bertemu.

Boleh saja kamu percaya cinta pada pandangan pertama, bahwa dua insan bisa saling menaksir sekadar dengan kontak mata. Dan silakan jika kamu yakin kalau cara mencuri hati perempuan adalah menghujaninya dengan perhatian.

Sedangkan aku, selaku penggandrung cerita, masih sepenuhnya merasa bahwa gradien kasih sayang berbanding lurus dengan kisah yang dialami bersama-sama — dengan momen.

Mungkin perjumpaan pertama adalah saatmu menanam bibit, lalu perhatian konstan adalah curahan air dan zat hara yang dimaksudkan merawatnya.

Namun takkan ada putik yang tumbuh tanpa fotosintesis, dan momen adalah rentang waktu antara terbit dan tenggelamnya matahari.

Seperti peribahasa Jawa yang kusukai: witing tresna jalaran saka kulina.

V.

Kalau takut berpisah, jangan bersua.

Padahal, ketimbang merindukan seseorang sedemikian dalamnya sampai-sampai terasa sakit, masih lebih menyesakkan lagi bagi yang tak punya seorang pun untuk dirindukan.

Anehnya, sekarang aku tidak rindu siapa-siapa.

VI.

“If you don’t try to save one life, you’ll never save any.”

C.M.

Aku kapan-kapan, ya. Janji.

Tapi, selamatkanlah dulu dirimu sendiri.

Pesiar
Saturnus, 8 Decem
A.D. 2018

Masa transisi memang selalu tidak enak.

_

Weaving insights from Philosophy, Psychology, and Urbanism to make sense of the human condition.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store