Kurasi // Kreasi

Dualisme Pemelihara-Pencipta

Image for post
Image for post
Foto: Aushaf Widisto, 2017

Karena ini hanya tulisan santai, rasanya tak begitu perlu mencatut dari sumber resmi. Biarlah dua kata ini dimaknai menggunakan penafsiran pribadi penulis, dan jika terasa janggal pun takkan ada yang melarang pembaca sekalian untuk memeriksa pengertian baku di dalam kamus. Jika keliru silakan salahkan, jika benar silakan aminkan.

Singkatnya begini:

Istilah kurasi lahir dari kata curare yang berarti menjaga.

Seorang kurator adalah penjaga yang bertugas menilai, mengoleksi, serta melestarikan suatu objek tertentu. Objek yang dimaksud di sini lazimnya berupa karya seni atau artefak bersejarah, meski ada juga macam-macam lain lagi.

Sedangkan kreasi turun dari kata creatio yang berarti mencipta.

Kreator adalah julukan bagi ia yang mampu memberi wujud pada sesuatu yang awalnya tiada. Sebagaimana Tuhan meniupkan ruh pada makhluknya yang belum memiliki nyawa, manusia pun dianugerahi kuasa untuk menghidupkan karya.

Keduanya niscaya saling terkait. Dahulu kreator menciptakan, lalu kurator menjaga ciptaan. Objek yang dikaji oleh kurator tentu pada awalnya tak lebih dari figmen dalam benak — gagasan abstrak yang dijadikan konkret menggunakan segenap daya kreatif.

Profesi kurator pada hakikatnya bukanlah pekerjaan asal-asalan. Butuh pendidikan terstruktur untuk mencetak individu yang cukup cakap untuk menaksir nilai objek dengan pasti, mengumpulkannya dalam susunan rapi, dan memastikan keindahannya tidak musnah dikikis pergantian hari.

Namun perlu diakui: fungsi kurator akan nihil tanpa adanya kreator. Keduanya butuh upaya, keduanya butuh kriya. Tapi salah satu punya dependensi lebih pada satu yang lain.

  • Editor naskah akan nihil tanpa adanya penulis;
  • Redaktur grafis akan nihil tanpa adanya ilustrator;
  • Pemerhati galeri akan nihil tanpa adanya pelukis;
  • Pengulas lagu akan nihil tanpa adanya musisi;
  • Kritikus film akan nihil tanpa adanya sutradara;

— dan masih banyak contoh-contoh lainnya lagi.

Meski perlu diakui pula: bagi kreator, boleh jadi keberadaan kurator merupakan sumber motivasi yang positif. Karena agaknya, tidak ada orang yang tidak suka kala karyanya mendapat rekognisi.

Selain itu, sebagai seseorang yang memiliki wawasan lebih dalam bidang terkait, kurator pun dapat berperan sebagai sumber kritik dan saran bagi kreator. Dengan catatan bahwa masukan yang diberikan oleh kurator tersebut bersifat konstruktif.

Mengutip sebuah ucapan (yang berupa parafrasa karena sudah lupa bagaimana kata-kata eksaknya) dari lokakarya Sounds from the Corner yang dihadiri penulis beberapa bulan silam:

“Dulu tuh Metallica bisa gede banget soalnya ya yang banyak dapet eksposur di media tuh Metallica doang. Band-band gede lain juga kayak gitu.

Kalo jaman sekarang kan teknologi udah canggih, musik udah gampang diakses — di Youtube lah, Spotify lah. Jadi udah hampir gak ada lagi band yang gede-gede amat sampe nutupin band-band lain yang lebih kecil. Soalnya gak ada lagi orang yang terpaksa ikut-ikutan dengerin satu band cuma gara-gara itu band udah terkenal duluan.

Sekarang semua orang bisa gampang nyari genre musik yang dia suka, dan semua band juga bisa gampang nemu audiensnya masing-masing.”

Penulis sangat sepakat dengan pernyataan tersebut. Bahwa semua orang berhak memiliki kegemarannya masing-masing, dan semua karya berhak mendapat apresiasi dari penggemar masing-masing.

Terlebih lagi di era sekarang ini, di mana sangat mudah bagi keduanya untuk saling dipertemukan. Personalisasi dan eksplorasi preferensi bukan lagi hal yang berada di luar jangkauan, justru kian dekat dan kian sederhana.

Sudah tidak perlu lagi kita berpura-pura satu selera dengan arus utama.

Baris-baris tulisan ini, kurang lebih merupakan sentilan bagi segelintir kurator yang menurut penulis— sebut saja— melangkahi wewenangnya. Merujuk pada fenomena yang sering ditemukan saat melakukan observasi terhadap beberapa skena.

Di sekitar penulis terdapat sekelompok orang yang — berbekal status sosial dan naungan lembaga — berani-beraninya mendikte orang lain tentang apa yang layak disukai dan apa yang tidak. Mungkin mereka memang punya wawasan dan pengalaman lebih dalam bidang tersebut, namun tetap saja, apakah cukup untuk jadi justifikasi?

Penulis memahami, bisa jadi pemaksaan tersebut berawal dari niat yang baik. Mereka menemukan sebuah karya seni yang berkualitas namun kurang diakui, dan lantas berusaha menyebarkannya ke khalayak agar semakin banyak yang menghargainya. Sampai sana masih tidak masalah, justru mulia malah.

Cela yang patut digarisbawahi adalah: ketika ada seseorang yang memiliki pendapat berbeda, serta merta mereka memberinya label negatif karena tidak menyukai karya seni tersebut. Cupu, alay, payah, dan banyak lagi cercaan lainnya. Menganggap dirinya sendiri paling keren hanya karena (merasa) memiliki selera bagus, lalu menahbiskan semua yang tidak sependapat sebagai golongan dengan kasta lebih rendah.

Memaksakan standar baku pada preferensi, yang notabene merupakan variabel relatif. Sebuah stratifikasi terselubung didasari arogansi tinggi membubung.

Kecongkakan memang sifat yang buruk. Namun setidaknya, penulis rasa menyombongkan karya lebih bisa diterima ketimbang menyombongkan selera. Ketika kamu hanya dapat sekedar suka dan belum tentu sanggup mencipta pada taraf yang sama, apakah itu layak dipamer-pamerkan?

Lebih baik lupakan soal merdeka dalam pikiran ataupun merdeka dalam tindakan. Lihatlah, dalam berselera saja kita masih belum merdeka.

Seulawah
Saturnus, 23 Septem
A.D. 2017

Celotehan ini merupakan hasil ngalor-ngidul dengan Nayaka Angger.

_

Written by

I write about all things human.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store