Konservatif

Sebenarnya, semua masa adalah sama.

Waktu hanya berlalu, manusia yang berubah.

Perubahan akan datang saat ia mau, dan ia selalu seenaknya sendiri. Ketika tak diharapkan pun ia tetap datang. Tak ada pilihan selain membiarkannya, karena kularang pun ia takkan mendengarkan.

Beberapa malam terakhir, aku selalu susah terlelap. Dan pada pagi yang mengikutinya, aku selalu susah bangkit. Ketika bangun, aku ingin terus terjaga. Ketika tidur, aku ingin terus mengantuk. Peralihan antara keduanya terasa amat sangat berat.

Begadang dan bangun kesiangan bukan fenomena yang aneh dalam kehidupan seorang mahasiswa. Hanya saja, kali ini aku punya pemaknaan yang agak berbeda. Memang tetek bengek perkuliahan sedang cukup melelahkan, tapi aku sudah biasa kelelahan. Rasanya ada hal lain, lebih dari sekedar lelah, yang mampu menggeser ritme sirkadianku sejauh ini.

Kondisi tubuh adalah manifestasi dari kondisi pikiran. Tubuhku sedang membenci transisi, karena pikiranku pun sedang membenci hal yang sama.

Akhir pekan lalu, tepatnya hari Sabtu, aku menyaksikan penampilan sebuah band yang lagunya sudah akrab di telingaku sejak lama. Aku pertama kali menemukannya dalam soundtrack sebuah film lawas tentang pemuda pengantar rol film bioskop.

Sebelum lagu dimulai, vokalisnya bertanya pada audiens:

Siapa disini yang nggak suka perubahan?”

Aku mengangkat tanganku, bersama sejumlah penonton lain yang punya preferensi sama. Mungkin beberapa mengangkat tangannya hanya untuk bersorak, tapi jika diasumsikan semua tangan yang terangkat benar-benar menjawab pertanyaan sang vokalis, artinya banyak sekali orang yang tak menyukai perubahan.

Ini lagu buat kalian yang nggak suka sama perubahan. Judulnya .”

Aku sudah sangat sering mendengar lagu ini, tapi baru saat itu aku memahami maknanya. Konservatif bercerita mengenai seorang yang terlarut dalam satu momen di masa kini, dan enggan menerima fakta bahwa momen itu akan berubah.

Seketika, aku membandingkan cerita dari lagu dengan kehidupanku sendiri. Dulu aku pernah punya momen-momen yang sangat kusuka. Namun hidupku sekarang sangatlah berbeda dari yang dulu.

Aku tak pernah membenci perubahan sebenci yang kurasakan sekarang.

Yang mengusik ketenanganku bukan masa lalu yang jauh. Melepas yang jauh, sangatlah mudah ketimbang melepas yang dekat.

Bagaimana bisa dalam rentang waktu yang begini singkat, terjadi perubahan yang begitu banyak?

Kemarin, di acara musik lain yang skalanya lebih kecil, aku duduk di bangku yang agak jauh dari sumber suara, sengaja memisahkan diri dari penonton lain karena ingin menikmati musik sambil melamun seperti biasa.

Lalu seorang teman menghampiriku, dan entah apa yang memicunya untuk bertanya, tapi ia berkata seperti ini:

N: “Lo suka menyiksa diri dalam kesendirian ya?”

A: “Engga sih, ngga nyiksa diri juga. Tapi emang gue sering mendem penderitaan gitu.”

N: “Kalo derita lo jadi makin numpuk gimana?”

A: “Gapapa, daripada orang lain ikutan menderita gara-gara gue. Hehe.”

Kita diam sejenak. Lalu ia segera kembali ke depan panggung, sebelum suasana berubah jadi canggung.

Memang, aku tak suka berbagi derita. Tapi sejujurnya aku hanya tak cukup peduli untuk memberi tahu orang lain. Dan aku juga beranggapan, bahwa tak ada orang yang benar-benar ingin tahu tentang deritaku. Aku yakin takkan ada yang cukup tulus untuk peduli.

Aku pernah memaksakan diri untuk menceritakan penderitaanku pada seseorang, yang menurutku punya kapasitas untuk peduli. Entah, apakah ia sungguh-sungguh atau tidak. Tapi saat itu aku berusaha percaya padanya.

Terima kasih, karena tidak berubah setelah mendengar ceritaku. Sayangnya, ternyata aku sendiri yang berubah.

Andai saja deritaku tetap kupendam, mungkin sekarang semua masih sama.

Hari ini genap tujuh hari sejak Sabtu yang lalu. Cuma tujuh hari, tapi perubahan yang terjadi tak bisa kuhitung lagi.

Hingga sekarang masih saja aku susah tidur. Aku menulis ini sejak Jumat larut malam hingga Sabtu pagi buta. Semoga besok pagi, eh, nanti pagi aku tidak susah bangun.

Kuakhiri tulisan ini bukan karena selesai, tapi karena aku sudah diusir dari tempatku menulis. Sayang sekali kedainya sudah akan ditutup.

Sebelum pulang, kutenggak sedikit kopi yang masih tersisa. Rasanya masih pahit, padahal sudah kuberi tiga sendok gula. Tadinya aku hendak menambahkan tiga sendok lagi, tapi aku menahan diri.

Beberapa hal memang lebih baik dibiarkan pahit.


Saturnus, 19 Mars
A.D. 2016

Ditulis setelah menolak ajakan teman untuk menghabiskan malam di sebuah bar. Maaf kawan, kau tahu aku selalu senang berbuat bodoh bersamamu. Tapi seperti biasa, introversi datang lagi.

_

Written by

I write about all things human.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store