Kita Berdua Sama-Sama Buku

Sampaikan sekiranya kamu bukan.

Awalnya aku takut bicara.

Seumur hidupku, diam selalu cukup
sebagai solusi. Bumi tetap berotasi
tanpa menghiraukanku yang hanyut
dalam arusnya, jadi aku manut saja.

Suatu hari kamu muncul dari sela-sela pintu
kelas. Sekilas kamu tidak cantik sehingga tidak
kuperhatikan. Lalu kamu duduk di sebelahku.

Baru aku sadar senyumanmu semanis apa.

Aku masih malas bersuara.

Mataku terpaku pada buku dan dalam kepalaku
berseliweran lirik lagu. Kemudian lamunanku buyar
gara-gara kamu yang tidak bisa berhenti bercanda
menggoda karena kamu suka kalau aku risih.

Singkat cerita kamu membantuku menulis cerita.
Lalu kamu berhenti merangkai dan pembatasnya
kubuang agar aku dan kamu lupa kita sudah sampai
mana. Kini kamu pungut lagi benda itu dan kamu
letakkan seingatmu karena lupa tempatnya semula.

Padahal aku bajingan
tapi masih saja kamu kembali
berkisar di sekitarku. Gadis bangsat,
kali ini apa yang kamu perbuat?

Sampai perlu pulang ke rumah yang sudah
lama kamu gantikan dengan yang baru.

Sementang kamu tahu aku akan selalu
membukakan pintu. Tapi kamu pun perlu
paham aku tidak akan lagi mempersilakanmu
masuk jika bukan kamu yang lebih dulu mengetuk.

Lalu aku belajar beraksara.

Dulu kukira aku pusat semesta, lalu aku tumbuh
dewasa. Lalu aku sadar semua orang sudah tua
tapi masih bocah, termasuk kamu. Aku tidak
mau bijaksana sendirian, akhirnya aku
menyendiri saja tanpa kebijaksanaan.
Sedangkan kamu masih asyik
sibuk dengan entah
apa atau
siapa.

Akal sehatku sudah tidak sudi
menempatkan kedua tokoh aku dan
kamu dalam satu kisah. Keberadaan kita
dalam latar yang sama lama-lama hanya
memicu konflik tak perlu. Namun aku
tak kunjung bertemu karakter baru.
Naskah masih menunggu.

Darimu aku mengerti:
wanita memang harus jelita,
tapi di akhir hari, cantik tidak sesederhana
tampilan fisik. Aku mudah bosan dengan perempuan
kebanyakan yang melulu berujar tentang paras dan status.

Lebih baik separuhku kosong sedikit
lebih lama ketimbang dipaksa hambar
karena yang diminta dariku sebagai
lelaki hanya tampan dan mapan.

Mereka hanya secarik brosur.
Sesaat menangkap mata lalu diremukkan
atau dibuang sembarangan. Kamu buku
yang kendati enggan kubaca, kusimpan
hati-hati di pinggir lemari.

Sekarang aku mulai biasa berbahasa.

Tapi aku bertanya-tanya apa gunanya, jika
sampai hari ini hanya kamu yang jatuh
cinta pada kata-kataku.

Truk Kuning
Thor, 23 Mars
A.D. 2018

Sulit mencari yang menarik di sekitar sini.

_

Written by

I write about all things human.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store