Kias Wiracarita

Menjadi Bajik dengan Bijak

Foto: Aushaf Widisto, 2018

Pahala, Wan

“A hero ventures forth from the world of common day into a region of supernatural wonder: fabulous forces are there encountered and a decisive victory is won: the hero comes back from this mysterious adventure with the power to bestow boons on his fellow man.”

Joseph Campbell, The Hero with a Thousand Faces

Kutipan di atas tercatat pada tahun 1949, diekstrak dari salah satu karya literatur Joseph Campbell yang cukup populer. Dalam buku ini, beliau menggambarkan pandangannya mengenai arketipe tokoh-tokoh pahlawan yang lazim ditemukan dalam kisah-kisah mitologi.

Mempertimbangkan pletora karakter pahlawan di dunia (yang jumlahnya terang-terangan lebih dari seribu), setelah ditelaah baik-baik, akan seketika terlihat bahwa sekian banyak tokoh tersebut memiliki karakteristik yang serupa dan alur cerita yang juga serupa.

Melalui sudut pandang mitologi komparatif, bisa dikatakan bahwa pada dasarnya semua kisah heroik yang ada pasti mengikuti pola demikian:

Sumber: https://anewdoxology.files.wordpress.com/2017/08/heros-journey-chart.jpg

Pola tersebut membentuk kerangka cerita yang sudah tentu kita kenal akrab. Sang protagonis berangkat bertualang, mendapatkan teman-teman dan kekuatan baru, mengalahkan monster, lalu pulang sebagai pahlawan.

Kalau boleh menerka, barangkali kisah-kisah semacam ini adalah jenis cerita paling universal yang pernah (dan akan terus) ada. Menariknya, meskipun mainstream dan repetitif, ia tak pernah jadi membosankan.

Bahkan, rangkaian tersebut menjadi semacam “rumus” di kalangan penulis, panduan langkah demi langkah untuk menghasilkan cerita apik yang pasti digandrungi khalayak.

Bagi saya, fenomena tersebut sungguh mengatakan sesuatu:

Arketipe tokoh [pahlawan] punya makna mendalam bagi kita semua, melebihi [panglima], [mahaguru], bahkan [raja] sekalipun — dan itu bukan tanpa alasan.

Petak Semai

Beruntunglah bocah-bocah yang tumbuh dewasa bersama heroisme dalam balutan cerita. Bersama segala ragam epos yang menuturkan sepak terjang sosok pahlawan dalam menyelamatkan dunia dari marabahaya.

Seiring makin tersebar luas dan meratanya kisah-kisah semacam ini, sebagian besar lapisan masyarakat menjadi semakin gandrung dan semakin biasa terekspos gagasan heroisme dalam bentukan apa pun itu: serial televisi, film, komik, anime dan manga, novel fantasi, game konsol — apa pun.

Kendati dewasa ini popularitas subjek tersebut terbilang luas dan cenderung digemari sebagian besar populasi, tetap tak sedikit stigma yang melekat pada kalangan-kalangan yang menggemarinya (dengan agak berlebihan). Agaknya karena kalangan tersebut lebih cenderung untuk berandai-andai bahwa dirinya adalah pahlawan, ketimbang berupaya menjadi pahlawan sungguhan.

Sebutan yang paling lazim terdengar, diantaranya adalah nerd atau geek. Atau weaboo bagi yang lebih spesifik terhadap kultur pop Jepang. Semacam label negatif yang identik dengan watak “culun.”

Namun belum tentu subjek yang saat ini dianggap culun akan selamanya culun. Sebut saja transformasi subkultur komik superhero yang kini memiliki citra keren setelah diterjemahkan dalam semesta sinematik.

Yang dahulunya cuma konsumsi kalangan nerd dan geek, sekarang orang-orang dengan arketipe “anak gaul” seperti para jock dan prom queen pun sampai turut menggandrunginya (kalau boleh jujur, orang-orang semacam ini agak menyebalkan — dulu menghina, sekarang ikut-ikutan suka).

Psikolog sosial kelahiran Polandia, Robert Zajonc, agaknya akan mengaitkan ini dengan Mere-exposure effect — tapi itu bahasan lain untuk waktu yang lain.

Untuk sekarang, bisa kita katakan begini:

Peningkatan eksposur yang tinggi terhadap kisah-kisah heroik, berbanding lurus dengan gradien preferensi positif terhadap sosok-sosok tituler di dalamnya.

Singkatnya: makin sering lihat, makin suka.

Lama-lama, diam-diam, semua orang ingin jadi pahlawan.

Dalam Kompleks dan Sindrom

Kalau diminta memilih salah satu aspek positif paling dominan yang dimiliki kisah-kisah heroik, hal pertama yang terlintas dalam benak saya adalah perihal moral.

Tidakkah kita belajar jauh lebih banyak mengenai kebajikan melalui cerita-cerita kepahlawanan, ketimbang pendidikan budi pekerti di sekolah? Mulai dari yang klise seperti [kebaikan pasti menang], hingga yang ambigu seperti [kebenaran itu abu-abu]. Misalnya:

Assassin’s Creed mengajarkan kita mengenai harmoni di balik dikotomi, lewat perseteruan antara Kemerdekaan (Freedom) dengan Keteraturan (Order) dalam memperjuangkan perdamaian — yang justru tercipta bukan ketika salah satunya menang, tapi dari keseimbangan antara keduanya.

Game of Thrones mengajarkan kita bahwa afiliasi moral itu rancu. Semua orang bisa baik, jahat, bahkan keduanya pada saat bersamaan; asalkan punya dasar yang jelas. Sehingga, karena semua punya justifikasi yang kredibel, kita hampir tak pernah benar-benar benci atau suka dengan salah satu pihak saja.

Tokyo Ghoul mengajarkan kita bahwa segala perselisihan pasti punya solusi. Bahkan untuk jenis konflik dengan basis yang jauh lebih fundamental dari politik atau pun prinsip: Predasi. Ketika semua pihak rela meletakkan senjata dan belajar saling memahami, jangankan antar kabinet dan partai oposisi, bahkan predator dan mangsa pun bisa hidup rukun.

Pada akhirnya, dari kisah-kisah seperti inilah terbentuk pemahaman kita mengenai baik dan buruk. Dibekali pemaknaan yang tepat, kita dilatih untuk peka terhadap ketidakadilan di sekitar kita. Menaksir yang salah lalu membenarkannya. Empati, kontemplasi, lalu aksi.

Berangkat dari sana, tidak sedikit anak-anak yang tumbuh dewasa sembari merintis mimpi untuk menyelamatkan dunia.

Sekarang perlu disadari sisi sebaliknya: Dari kehendak yang mulia sekalipun, kadang lahir dampak yang merusak.

Dalam beberapa kasus, dorongan untuk memberantas kejahatan dapat diumpamakan seperti nafsu makan atau hasrat berahi — semacam lubang yang harus diisi, dan jika dibiarkan kosong akan ada konsekuensi.

Bentuk konkretnya dapat ditilik pada gejala-gejala gangguan mental tertentu. Sebut saja savior complex, yang ditandai dengan kepercayaan mutlak dalam diri seseorang bahwa ia ditakdirkan menjadi juru selamat.

Konon, Adolf Hitler merupakan contoh salah satu kasus akutnya.

Diktator berkebangsaan Jerman tersebut sungguh-sungguh percaya bahwa dirinya ditakdirkan untuk menjadi juru selamat bagi umat manusia, dan kepercayaan tersebut menjadi dasar dari tindakan-tindakannya — yang kita semua tahu sejauh apa jaraknya dari kata manusiawi.

Dalam benaknya, ia berjuang untuk tujuan luhur. Sayangnya definisi “manusia” yang dipegangnya berbeda dengan kita. Berbeda juga dengan yang ada di kamus.

Ironis, percaya menyelamatkan padahal menghancurkan.

Selain savior complex, terdapat pula fenomena hero syndrome. Jenis sindrom yang merujuk kepada semacam dorongan berlebihan untuk mendapatkan rekognisi heroisme dari orang lain.

Saking besar dorongannya, ketika seseorang yang menderita hero syndrome tidak mendapat “suntikan” rekognisi, ia akan sengaja menciptakan keadaan yang memberinya peluang untuk bertindak heroik.

Misalnya pemadam kebakaran yang sengaja membakar gedung supaya bisa menyelamatkan orang yang terjebak di dalamnya, atau dokter yang sengaja meracuni pasien supaya bisa menyembuhkannya kembali.

Lagi-lagi ironis, untuk menyelamatkan harus menghancurkan dulu.

What a time to be alive.

Sebentar, siapa yang menyelamatkan siapa?

Servo, Ergo Sum

Karakter pahlawan akan sangat membosankan jika tak punya antitesis. Seorang hero yang baik tentu membutuhkan villain dengan kadar jahat yang setimpal. Keberadaan karakter antagonis memberikan arah yang jelas, tujuan yang konkret — after all, a hero without a villain is a hero without a cause.

Sayangnya villain di dunia nyata tidak sekentara di dalam cerita. Seringkali tak ada figur riil yang bisa memainkan peran jahat bagi kita seperti Joker bagi Batman, Agent Smith bagi Neo, atau Sephiroth bagi Cloud.

Lantas, beberapa orang memilih untuk menciptakan sendiri karakter villain-nya, entah dengan mengantagoniskan pihak tertentu atau memerankannya secara pribadi. Seperti gambaran savior complex dan hero syndrome yang dijabarkan di bagian sebelumnya.

Bukan berarti sama sekali tak ada sosok villain yang riil di dunia nyata — kita masih punya para teroris dan koruptor. Tapi toh penyelesaian masalahnya tetap tidak akan sesederhana pertarungan baik versus jahat.

Lebih jauh lagi, sejujurnya ketidakadilan yang paling perlu kita basmi seringkali bukan berupa sosok konkret yang punya wajah dan wujud. Sebut saja diskriminasi sosial, kemiskinan ekstrem, atau degradasi lingkungan hidup. Atau sistem pendidikan yang memadamkan mimpi anak-anak kecil. Atau RUU yang mengungkung kebebasan berkarya. Atau macchiatto yang harga per cangkirnya lima puluh ribu.

Kiranya, untuk menjadi pahlawan, kita membutuhkan kejahatan untuk diberantas. Bahkan sebenarnya tak perlu muluk-muluk untuk menjadi pahlawan, tapi sesederhana untuk menjadi manusia yang baik.

Mungkin sekarang kita perlu menemukan kejahatan kita masing-masing. Menentukan entitas antagonis untuk dilawan, untuk memberi kita haluan dalam menyelamatkan dunia dengan tepat guna. Jangan sampai keliru.

Siapa tahu, dunia perlu diselamatkan darimu.

Q.E.F.

Penjara Batin
Tyr, 21 Maia
A.D. 2019

Di tengah negeri yang balau ini, kamu pilih baik atau jahat?

_

I write to comprehend humanity. If you enjoy my stories, consider buying me a coffee: ko-fi.com/aushaf.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store