Katharsis

Selalu ingin ini-itu, padahal cuma butuh satu.

Foto: Aushaf Widisto

Kebingunganku yang silam mulai sirna satu per satu, tergantikan dengan kebingungan yang baru. Perihal apapun itu — tentang obligasi, ataupun relasi. Tekanan selalu datang dari sana-sini, tapi aku selalu berusaha tenang. Karena jika aku tidak tegar, lantas siapa yang akan tegar untukku?

Seperti semua yang lain, aku pun butuh tempat bersandar ketika sedang gundah. Tapi aku tak ingin lemah, tak ingin terus menerus menjadi pihak yang membutuhkan sandaran. Aku pun ingin bisa sebaliknya, menjadi sandaran bagi mereka yang membutuhkan. Itulah kenapa aku tidak boleh tidak tegar.

Aku ini pengecut. Sejujurnya, aku takut pada segalanya. Pada terang dan gelap, pada hiruk-pikuk dan sunyi-senyap, pada panas membara dan dingin menusuk. Ah, tapi tidak, terkadang aku pun masih bisa menjadi pemberani, seperti saat ini.

Yang tadinya anti-sosial kini berubah menjadi semi-sosial. Bukan karena tekanan, tapi karena permintaan. Begitu rupanya, cukup dengan permintaan yang tepat dari satu orang yang tepat, itulah katalisnya.

Kemudian, yang tadinya wajar pun menjadi aneh, dan sebaliknya, yang janggal pun menjadi lazim. Hingga kini aku masih benci pada perubahan, karena datangnya selalu seenak jidat. Aku tak pernah sadar akan kehadirannya, tak pernah siap berhadapan dengannya. Tiba-tiba aku sudah berada di seberang, tanpa ingat bahwa aku pernah menyeberang.

Jalan di depanku tampak begitu mulus, begitu cerah. Namun aku masih dikitari oleh rasa takut, dibayangi oleh sifatku yang pengecut. Maka aku terus berjalan sambil terus memaksakan diri. Dunia ini mengerikan sekali, namun syukurlah, di waktu yang sama ia juga indah. Syukurlah, aku punya alasan untuk terus berjalan.

Mungkin masalahku adalah keengganan berbuat salah. Seharusnya aku berbuat salah sebanyak-banyaknya, berbuat benar sekadarnya saja. Aku baru memahami, memperbanyak jumlah akan menurunkan harga. Sekarang aku bisa mengerti kenapa ada malaikat yang sengaja menjatuhkan dirinya dari surga. Karena memang, tak ada salahnya mendambakan sesuatu yang berbeda.

Siang tadi angkasa berwarna biru, lalu berubah merah seiring tenggelamnya matahari, hingga perlahan menjadi kelabu dan berangsur hitam menjelma malam. Setelah ini akan memutih lagi, mengikuti matahari yang kembali menyeruak, untuk kesekian kalinya mengulang siklus dari biru yang sama.

Yang lama mulai beranjak pergi, dan yang baru berdatangan untuk mengganti. Peran-peran akan segera bertukar majikan, hak dan kewajiban akan segera mencari pesuruh.

Semesta, aku takut. Antusias, penasaran, tidak sabaran, tapi tetap saja, takut.

Bekal yang kubawa hanyalah tekad, dan satu kalimat yang selalu teringat:
Jika aku tidak tegar, lantas siapa yang akan tegar untukku?

Penjara Batin
Saturnus, 1 Okto
A.D. 2016

Pejamkan mata, tarik napas, hitung satu sampai tiga, hembuskan, buka mata kembali. Jika terasa belum cukup, ulangi.

_

Weaving insights from Philosophy, Psychology, and Urbanism to make sense of the human condition.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store