Jangka Rerangka

Waktu Saat Kehilangan Ketika

Foto: Aushaf Widisto, 2019

Dari antara segenap pepatah dan kutipan yang berseliweran di dunia, ada salah satu, yang bahkan setelah hampir setahun menetap tetap tak mau diusir dari rongga-rongga benakku: Comparison is the thief of joy.

Perbandingan adalah pencuri sukacita. Entah menurutmu benar atau tidak, tapi aku tak bisa memungkirinya untukku sendiri. Sesaat hilang, setelahnya kembali. Untuk segala hal relevan, dan berlaku.

Materi, relasi, dan prestasi; adalah beberapa yang paling mengusikku. Tak ada habisnya mengamati orang lain yang punya dompet lebih gemuk. Gawai lebih mutakhir. Pernak-pernik lebih unik. Kawan lebih banyak dan lebih keren. Atau kekasih. Atau keluarga yang harmonis. Pekerjaan yang lebih prestigius dan lebih berdampak. Lingkungan yang lebih elit dan elok.

Kalau dipilihkan satu dari tujuh dosa pokok, niscaya, rekananku adalah Invidia — iri dengki.

Selagi menjelang dewasa, camkan ini, adik-adik. Berhati-hatilah:

Sungguh, perbandingan adalah pencuri sukacita.

Comparison is truly the thief of joy.

Langkahku terhenti di tengah jalan metaforis. Lalu terduduk. Masih di lintasan yang sama-sama cuma umpama. Menilik jarak yang tak pernah cukup tertutup tak peduli seberapa banyak aku bergerak. Seperti kisah Sisyphus, atau Paradoks Zeno tentang Achilles dan kura-kura. Kalau sia-sia, menyerah sajalah harusnya.

Tapi aku tak pernah menyerah. Bukan karena aku tangguh. Aku ini lemah tak terkira dan tak sedikit pun malu mengakuinya. Tapi aku benci stagnansi. Jika aku stagnan, lama-lama aku akan benci diri sendiri. Ergo, selalu saja kupaksakan meski tak sanggup, meski sudah nyeri. Menyeret telapak lebih baik ketimbang sama sekali tak beranjak.

Tetap saja tak pernah cukup. Aku selalu kurang. Kurang cerdas, kurang mahir, kurang kuat, kurang rupawan. Tetap saja aku memaksa. Tetap saja aku kalah dan tak mau menyerah. Setelah itu semua, kenapa — kenapa tetap tak ada yang bertambah?

Kenapa aku masih begini-begini saja?

Jangan setengah-setengah.

Apa pun yang kamu pilih untuk lakukan, jangan setengah-setengah.

Tuntas atau tidak sama sekali. Atau tak usah mulai sekalian. Kasihanilah pekerjaan-pekerjaan yang tidak selesai, sebagaimana kamu iba terhadap anak-anak yang tidak dipelihara. Sudah dibuat tapi tidak dirawat.

Aku ingin punya banyak anak: riset tata kota, buku, lagu, merek sandang, kedai kopi, ruang kreatif, lalu dua atau tiga anak sungguhan.

Sah-sah saja punya banyak hasrat kalau giatnya sebanding. Giatku belum sebanding — aku masih setengah-setengah.

Aku masih harus bekerja. Utuh, sungguh-sungguh.

Pemisah terbesar antara aku dengan hal-hal yang kudambakan, sebenarnya tidak rumit — hanya sulit. Kiranya terangkum dalam satu kalimat: Selalu saja pandanganku tertuju ke penjuru yang salah.

Berikut alternatif solusi yang kuketahui tapi entah kenapa tidak kulakukan. Kadang-kadang, bodoh memang tak perlu alasan.

  • Lepaskan kala
    membanding-
    bandingkan.

Alih-alih banding dulang, banting tulang saja, sana.

  • Cukupkan bila
    selalu dan terlalu
    merasa kurang.

Tetaplah takut berdiam diri. Tapi, tepatkan saja sedapatnya, lalu pergi.

  • Genapkan segala
    yang setengah-
    setengah.

Buka selebar-lebarnya, atau tutup serapat-rapatnya.

Singkirkan separuh-paruhnya.

Hutan Utara
Tyr, 23 Apru
A.D. 2019

Sebenarnya aku bertekad untuk mengurangi tulisan curhat. Sepatutnya laman Medium ini diisi tulisan-tulisan yang kalau tidak indah ya intelek, bahkan dua-duanya kalau bisa. Atau malah sebaliknya? Susah, ternyata.

Pelan-pelan, ya.

_

I write to comprehend humanity. If you enjoy my stories, consider buying me a coffee: ko-fi.com/aushaf.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store