Jalin Perca

“Benak adalah pelayan yang elok, tapi majikan yang berbahaya.”

Osho

Ketika kita bilang “swakarantina,” yang terbayang adalah bui.

Seakan-akan terkunci dalam jeruji, padahal ini kamar bukan kandang. Kita masih tinggal di rumah, masih bersama keluarga, dan masih punya koneksi internet untuk menukar kabar. Kita cuma kurang sabar.

Mari bersyukur — andai aku bisa bilang begitu. Sama sepertimu (mungkin), aku juga manusia lemah yang gemar mengeluh.

Oleh perputaran nasib yang tak tentu, pada kala yang memicu khawatir ini aku direnggangkan dari tanah air. Rencanaku sudah tersusun rapi, aku bergegas pergi meninggalkan kesalahan-kesalahan yang baru ingin kupikirkan nanti — hanya untuk mendarat beberapa hari kemudian kehilangan momentum.

Syahdan, jauh di selatan, keberadaanku terlepas dari waktu. Aku bahkan lupa menanti masa depan tanpa pandemi. Yang mengganggu cuma keputusan-keputusan keliru di masa lalu, dan masa sekarang yang dihabiskan untuk memperbaiki akibatnya — atau memikirkan cara-cara memperbaikinya.

Benakku kerap menayangkan ulang memori-memori menyebalkan ketika dibiarkan menganggur. Memaksaku mengaku bahwa kadang-kadang aku tak punya budi pekerti. Meski tak ada yang menagihnya, sebetulnya aku punya banyak hutang maaf dan terima kasih. Dan serentetan ungkapan lainnya yang lebih kasar dari itu.

Angkara — seperti lara, dan gembira — adalah faset perasaan manusia yang sahih, betapa pun sering kita diberi nasihat bahwa ia hanya mendatangkan kesumat. Kita tak bisa (atau bahkan tak boleh) menutupi fakta bahwa ia pun lahir dengan alasan, dan perlu dilampiaskan.

Ganas maupun jinak, segala yang dibelenggu pasti memberontak.

Pernah bertemu orang-orang dengan dendam yang teredam, konflik yang terkubur sebelum bertemu konklusi? Mereka punya kepribadian paling pahit yang bisa kamu temui.

Poinnya ini: semua emosi berhak diakui. Berbuat sebaliknya sama saja membantah kemanusiaanmu sendiri.

Menangislah saat kamu murung. Tertawalah saat kamu riang. Mengumpatlah saat kamu berang. Lakukan apa pun yang kamu mau dengan perasaanmu, cukup ketahui bahwa perasaan itu hak sekaligus kewajiban. Tak ada yang boleh melarangmu menyatakannya, tapi siapa pun layak menuntutmu bertanggung jawab atasnya.

Cukup ketahui itu, niscaya keputusanmu lebih bijak.

Begitu, aku bukan menulis ini untuk bersungut-sungut, tapi untuk mengingatkan diriku agar selalu mengakui dan menerima perasaan yang kumiliki — dan turut mengingatkanmu dalam prosesnya. Sekarang mari cukupkan bicara soal perasaan dan kembali pada kemelut di depan mata.

Tanpa majas hiperbola, aku terdampar jauh dan sendirian di dataran asing. Sebetulnya memang itu tujuanku: untuk menjauh dan menyendiri—tapi situasi yang kubayangkan bukan seperti ini.

Aku menyaksikan, di mana-mana, khalayak berdoa untuk kesembuhan Bumi. Padahal bukan Bumi yang sakit. Dengan umpama anatomi humanoid: Bumi adalah jasmani, tapi virus korona bukan virus — ia sel darah putih, dan kita semua tahu siapa virus sesungguhnya. Kita cuma enggan mengaku.

Namun, kalau kamu ingat kelas biologi, kurasa kamu tahu bahwa vaksin dan virus berasal dari nyawa yang sama. Seperti manusia, ada yang taat dan ada yang bangsat. Semua spesies berhak hidup — kuharap itu cukup untuk menghiburmu.

Kalau kurang, cermati saja hamparan di atasmu mumpung polusi agak menghilang. Kapan lagi langit sebiru itu?

Dari jauh dan dalam kesendirian, aku ikut berdoa dengan pembahasaan berbeda: Semoga sistem imun Bumi lekas mereda, dan kita — para biang penyakit ini — bisa bebas lagi merusak maupun menyembuhkan. Bebas memilih antara keduanya, dan lebih arif atas kebebasan tersebut.

Kalau kita bertemu lagi setelah ini, akan kulunasi hutang-hutangku tanpa menunggu lebaran — maaf, terima kasih, juga sumpah serapah. Kamu akan menerima yang sesuai dengan pemberianmu, dan kamu boleh membalas dengan apa pun yang pantas untukku.

Dan sepantasnya pula, sebagaimana dicontohkan pandemi, dunia akan membalas kita semua.

Lingkar Myora
Saturnus, 2 Maia
A.D. 2020

Aku sedang pusing dengan kosa kata Bahasa Inggris dan sitasi literatur, jadi kuselingi dulu dengan racauan.

Seperti biasa, semoga di sela-selanya ada yang bernilai untukmu.

_

I write to comprehend humanity. If you enjoy my stories, consider buying me a coffee: ko-fi.com/aushaf.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store