Indumentum Oris

Foto: Aushaf Widisto, 2018

Tiga Rupa

“The Japanese say you have three faces. The first face, you show to the world. The second face, you show to your close friends, and your family. The third face, you never show anyone. It is the truest reflection of who you are.”

Unknown

Pernah bertemu dengan kata-kata di atas?

Rangkaian kalimat tersebut kerap kali disangka sebagai pepatah yang berasal dari Negeri Sakura. Padahal menurut penduduk setempat, alegori mengenai “tiga wajah” yang beredar-entah-dari-mana itu bukanlah ungkapan yang vernakular dan lazim ditemui secara lokal.

Namun pesan yang disampaikannya tidak sepenuhnya palsu.

Konon, sebenarnya kutipan tersebut berasal dari kumpulan tulisan seorang misionaris Portugis yang pernah berdakwah di Jepang sekitar tahun 1577–1614, dan pada kenyataannya berbunyi seperti ini:

“The Japanese people are so crafty in their hearts that nobody can understand them. Whence it is said that they have three hearts: a false one in their mouths for all the world to see, another within their breasts only for their friends, and the third in the depths of their hearts, reserved for themselves alone and never manifested to anybody.”

Father João Rodrigues, História da Igreja do Japão

Selama menetap di Jepang, beliau mengamati bahwa watak penduduk negeri tersebut sangat sukar dimengerti. Mereka seakan-akan punya tiga wajah: satu untuk seluruh dunia, satu untuk sanak kerabat, dan satu untuk diri sendiri.

Meski saya tidak meragukan kebenaran pernyataan tersebut, rasanya kurang adil jika sifat demikian diatributkan hanya kepada masyarakat Jepang.

Kalau mau jujur, bukankah kita semua juga punya tiga wajah?

— atau malah lebih?

Persona Plural

Dalam The Principles of Psychology (1890), William James berkata seperti ini:

“Properly speaking, a man has as many social selves as there are individuals who recognize him and carry an image of him in their mind.”

Kalimat tersebut terdapat dalam penjabaran mengenai social self yang merupakan salah satu dari empat bagian self (diri) yang, secara berurutan dari luar ke dalam, terdiri dari:

  • Material self;
  • Social self;
  • Spiritual self; dan
  • Pure ego.

Keempat komponen tersebut tersusun membentuk lapisan-lapisan dari sebuah kesatuan, yang kemudian memberi kita kerangka dalam memaknai apa yang kita sebut sebagai “diri” kita.

Pada kutipan di awal bagian ini, James mengajukan gagasan bahwa kita memiliki jumlah social self sama banyaknya dengan jumlah individu yang mengenal kita. Artinya — bisa dibilang — kita memiliki satu kepribadian tersendiri untuk setiap lingkungan atau situasi tempat kita berada.

Misalnya: satu kepribadian untuk “dikenakan” di rumah saat bersama keluarga, dan satu lagi untuk di kampus saat berkumpul dengan kawan.

Maka, alegori “tiga wajah” yang dijabarkan pada bagian pertama kiranya bukan sekadar ungkapan, tapi memang merupakan konsep yang telah diakui secara akademik.

Bisik-Bisik Hipokrisi

Ada yang bilang bahwa kita adalah generasi pertama yang boleh hidup dua kali: di ranah nyata dan ranah maya. Dua keseharian untuk dijalani simultan, dengan dua “wajah” berbeda untuk masing-masingnya.

Menariknya, wajah di ranah maya relatif lebih mudah dikelola ketimbang di ranah nyata. Kita bisa merintis, mengatur, dan menghapusnya (hampir) semudah membalikkan telapak tangan. Sehingga wajah yang dibentuk dapat dikurasi secara konstan untuk setiap saat menampilkan citra positif.

Sampai sini agaknya lakon tersebut terkesan seperti advokasi terhadap sebuah keindahan semu. Tapi apa bedanya mengotak-atik akun media sosial dengan memasang aksesoris atau kosmetik? Dalam konteks ini, kegunaannya sama: mempercantik penampilan eksternal.

Sebenarnya perilaku kita sama-sama saja di ranah nyata maupun ranah maya.

Apakah ini berarti bahwa kita semua hipokrit?

Kendati pengaruhnya tidak dapat dimungkiri, rasanya kurang patut juga sepenuhnya menyalahkan media sosial atas kemunculan wajah-wajah semu yang mengenakan “topeng” dalam rangka berdandan menyamarkan cela.

Toh dengan atau tanpa internet, kita memang dan sudah pasti hidup dengan topeng kepribadian jamak. Teknologi hanya memberi jalan untuk mengeksplorasi wajah dan topeng baru.

Memiliki banyak wajah tak serta merta menjadikan kita hipokrit. Kiranya kepribadian jamak bukanlah sesuatu yang inheren, melainkan keterampilan yang kita pelajari sebagai mekanisme bertahan hidup.

Saya bukan ahli dalam bidang ini, tapi jujur saya tak bisa membayangkan ada seseorang yang bisa hidup hanya dengan satu wajah saja.

Kearifan Dangkal

“We do all create versions of ourselves, to appear to be the curators of our own stories, to appear to be in the driver’s seat of our own lives. But pretending doesn’t make us plastic. Imagination is what makes us human. It allows us to figure out which version of ourselves fits best. We’re not the worst generation. We’re just the most exposed. We’re living in a constant state of feedback — and judgment. So maybe the masks are a tool to survive the time. Maybe they provide a thin layer of protection. A place to grow, discover, reinvent. The important part is having people who know you without the mask, and being happy with who you are, beneath it.”

Peter Maldonado, American Vandal

Pada akhirnya — mungkin — yang perlu kita lakukan untuk menjadi sosok yang autentik bukanlah mengenakan satu wajah yang sama dalam setiap situasi. Bukan pula dengan gonta-ganti memasang wajah yang kompatibel menurut ekspektasi sosial yang berlaku.

Bukan berarti juga kita perlu menyelubungi dan menghindarkan wajah kita dari seluruh dunia. Sama sekali tidak.

Menurut saya, tak masalah punya wajah sebanyak apa pun, asalkan kita menjaga setidaknya satu wajah yang bisa sepenuhnya kita rangkul sebagai diri kita yang asli — dan bisa kita kenakan tanpa sedikitpun rasa enggan.

Q.E.F.

Studio Dalam
Tyr, 12 Februus
A.D. 2018

Hasil ngelamun di kantor.

_

Weaving insights from Philosophy, Psychology, and Urbanism to make sense of the human condition.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store