Fragmen Penutup

Semakin tak karuan, tapi aku tak bisa mengalihkan perhatian.

Akhir-akhir ini banyak sekali terjadi hal-hal kecil yang membuatku merasa beruntung. Mungkin sejak dulu pun memang selalu banyak, hanya aku saja yang masih terlalu arogan untuk memahami makna kata syukur.

Entah kenapa, aku sudah tidak malas berbuat baik lagi. Mungkin karena kebaikanku akhirnya terbalas dengan kebaikan juga? Atau bisa saja karena aku tidak peduli lagi dengan balasan apapun bahkan pahala sekalipun. Segalanya hanya perlu dijalani saja tanpa perlu dipikirkan terlalu larut, tanpa perlu dikhawatirkan atau diharapkan terlalu dalam.

Dua orang teman berkata pada waktu yang berbeda, mereka bilang banyak ucapanku yang tidak sesuai dengan tindakan, tapi kurasa mereka pun mengakui bahwa aku tak pernah berdusta soal perasaan. Artinya, ketidaksesuaian itu terjadi tanpa sengaja.

Aku perlu lebih berhati-hati, salah-salah akan ada yang tanpa sadar tersakiti. Sepertinya banyak orang memandangku sebagai lelaki yang paham budi pekerti, namun pasti lebih banyak lagi yang tahu bahwa aku pun berengsek dengan caraku sendiri.

Kata maaf harus selalu siap di ujung lisan, agar tidak tercekat di kerongkongan ketika tiba saatnya kuucapkan. Sama halnya dengan terima dan kembali kasih. Juga sumpah serapah yang tidak boleh salah arah.

Kata-kata punya kekuatan aneh yang seringkali kuanggap remeh, mulai sekarang aku tak akan lagi asal-asalan merangkainya supaya di akhir tak perlu ada yang disesali pula.

Satu orang gadis berkata pada satu malam yang lumayan silam, ia bilang aku terlalu sering tenggelam dalam semestaku sendiri. Duduk di pojok keramaian tanpa satupun teman, namun sembari melamun segala makhluk senantiasa terlintas dalam pikiran.

Dengan suara pelan aku mengiyakan perkataannya. Lucu rasanya, ada orang lain yang memahamiku lebih dari aku. Selama ini aku selalu merasa egois, padahal aku hanya berpikir sendiri — bukan memikirkan diri sendiri. Sederhana namun selalu terlewatkan oleh pandanganku yang rabun, dirabunkan oleh entah apa. Tapi siapa yang tahu, akhirnya datang juga seseorang yang berhasil menyadarkanku.

Benar juga, setiap manusia memandang dunia dengan lensa yang warnanya berbeda-beda. Mungkin lensaku berwarna biru, sehingga hal-hal merah takkan terlihat olehku. Kalau begitu aku hanya perlu mencari teman yang memiliki lensa merah dan meminjamnya untuk beberapa waktu. Lalu melakukan hal yang sama dengan jingga, kuning, hijau, nila, dan ungu.

Karena untuk melihat dunia sebagaimana adanya, aku harus melihat dengan sebanyak mungkin lensa.

Ditulis sambil menyesap segelas teh hijau, bersama dua orang teman yang keduanya demam kopi.

_

Written by

I write about all things human.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store