Fragmen Perantara

Tak bisakah aku menulis tentang hal selain lamunan?

Satu jam selepas dini hari, aku terbaring sambil menatap langit-langit yang kusam, ditengah empat teman yang semuanya nyenyak terlelap. Ketenangan malam sudah terlampau sering dijadikan latar cerita, membuatku malas menggambarkannya lagi dengan terlalu rinci, toh aku tak pernah terlalu suka pada repetisi.

Banyak yang bilang bahwa tertidur adalah untuk orang-orang lemah. Terserahmu sajalah jika kau bangga dengan kemampuan begadangmu, wahai orang kuat yang sepertinya hanya sok kuat. Tak ada hal yang patut dibanggakan dengan berlebihan seperti itu, menurutku. Tidur itu menyenangkan, dusta jika kau menyangkalnya.

Malam memang sebuah anugerah, tapi ia takkan indah jika tak dimaknai dengan sungguh-sungguh. Hal-hal yang biasa kau lakukan setelah matahari terbenam, pastikanlah sekali lagi, agar paruh akhir harimu tak menjadi tanpa arti.

Terlebih jika yang kau pilih adalah untuk tetap terjaga. Kesadaran tak boleh disia-siakan, jika bangun, bangunlah seutuhnya. Selesaikanlah kewajiban yang semestinya sudah lunas sejak siang tadi.

Jika memilih tidur, bermimpilah yang indah, dan tuliskan mimpimu dalam jurnal saku saat terbangun esok hari. Setiap kenangan adalah berharga, bahkan kenangan dari dunia mimpi. Jangan biarkan menguap begitu saja.

Kadang, pada waktu-waktu keberuntungan, kematian akan menjemputmu untuk satu malam penuh. Mengizinkanmu tidur tanpa harus bermimpi. Selagi bisa, istirahatlah dalam pelukannya yang nyaman, karena kau akan segera dikembalikan. Sebelum pagi dan terbangun lagi, mata terbuka namun tak bisa mengingat apa-apa.

Seharusnya sekarang aku beranjak dan bukannya menulis. Meski berantakan dan berdebu, pojok ruangan ini cukup nyaman bagiku. Semoga akan nyaman bagimu juga, ketika tiba saatmu menginjakkan kaki di dalamnya.

Mungkin dunia tampak suram hanya karena aku memandangnya dengan mata yang muram, dan untuk menjadikannya indah aku hanya perlu melihat dengan mata yang berbinar. Logikanya terkesan terbalik, namun nyatanya ia memang berlaku dua arah.

Aku masih merasa bahwa tak semua insan layak menerima kebaikan, namun aku senang karena berhasil menemukan segelintir yang layak. Tak ada yang bilang bahwa penilaianku adalah yang paling adil, tapi tak ada juga yang berhak melarangku memberi penilaian.

Lingkup semestaku sangat kecil, dan aku selalu menjaganya untuk tetap kecil. Keinginan untuk menjadikannya besar selalu muncul, dan sesering munculnya, sesering itu pula kuurungkan lagi. Sebatas keluarga, teman, dan orang-orang terdekat saja sudah membuatku kewalahan membagi empati.

Tapi aku juga berpikir seperti ini: Jika semua orang merawat semesta kecilnya masing-masing, bukankah kita merawat semesta besar bersama-sama?

Malam ini dingin sebagaimana layaknya. Namun syukurlah, tempat ini selalu hangat seperti biasanya.

_

Written by

I write about all things human.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store