Delirium

Bukan puisi, mungkin anekdot semi-fiksi.

Biasa tidak panik dan saat itu pun tak terlalu kebingungan.

Tanpa berpikir panjang lalu tergerak untuk mencari cermin.
Kulihat rupaku berubah sedikit dan rautku berubah banyak.

Ekspresi ceria yang menggambarkan:
bahwa masa ini lebih tenang dari masa kini.

Bagaimana bisa kamu tampak demikian tenteram?
gumamku pada sosok dalam cermin.

Mungkinkah sudah tak ada keluarga
yang terhalang dinding tak kasatmata?

Juga tak ada sahabat
gadungan yang jarang datang
namun sering pergi,

dan tak ada gadis-gadis
sialan yang sekadar singgah
tanpa sedikit pun niat berlabuh?

Tebakan yang kurang landasan meski bukan tanpa alasan, menurutku.

Karena status atau pun materi takkan genap melukis senyum selebar itu — hanya ikatan yang bisa, manusia ke manusia.

Kemungkinan itu pun kuterima,
sebagai jawaban yang gegabah namun tepat sasaran.

Sayangnya tahu terlalu banyak tentang masa depan
akan menjadikannya membosankan, bagi yang hidup di masa lalu.

Maka segera aku bersiap pulang sebelum mengetahui lebih dari yang perlu.

Dan aku pun menidurkan diri,
untuk memutar waktu kembali ke hari ini.

Jelai
Odin, 17 Janus
A.D. 2018

Kian hari kadar melamunku kian tidak sehat saja.

_

Weaving insights from Philosophy, Psychology, and Urbanism to make sense of the human condition.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store