Catatan Pasca-Eksodus

Pengantar untuk Kabur yang Luhur

Suatu delapan yang jatuh di Hari Sabtu, aku pergi jauh setelah hampir enam tahun terjebak inersia. Berikut adalah sejumlah hal yang melintasi benakku beberapa saat sebelum dan sesudah berangkat.

Aku tak tahu bagaimana cericau ini akan memberimu manfaat, tapi mudah-mudahan ada manfaatnya.

Sungguh, mudah-mudahan ada.

Berdasarkan cerita salah seorang teman — atau adik? — ku, dalam keilmuan arsitektur terdapat bahasan bertajuk “liminal space” atau ruang perantara. Sebuah terminologi yang memberikan nama bagi ruang-ruang yang “keberadaannya bukanlah tentang dirinya sendiri”.

Kata liminal sendiri merujuk pada sebuah kondisi “in-between” atau berada di antara. Sudah berangkat tapi belum sampai. Sudah mulai tapi belum selesai.

Sebetulnya, gagasan terkait liminality tidak terbatas pada konteks arsitektural atau spasial saja, ia justru lebih lazim ditemukan dalam bahasan-bahasan dengan konteks mental-spiritual. Boleh dibilang, liminal space adalah manifestasi liminality dalam wujud ruang.

Contoh liminal space dalam ranah arsitektur, yang paling mudah, adalah ruang tunggu — ruang mana pun itu yang dirancang semata-mata untuk menjadi tempat kita menunggu. Sebagaimana kita pasti tahu, tetapi jarang kita sadari: Keberadaan ruang tunggu bukanlah tentang dirinya sendiri.

Sebut saja ruang tunggu rumah sakit. Kita berada di sana bukan untuk “menunggu” itu sendiri, tapi untuk mendapatkan perawatan medis, menjenguk kerabat, membeli obat, atau kegiatan apa pun itu yang lazim bergulir di rumah sakit. Yang memberi makna pada ruang tunggu, adalah apa yang berada setelahnya — ia sendiri hanya perantara.

Simpul perhentian transportasi seperti halte, stasiun, atau bandara juga sering diangkat sebagai contoh liminal space. Karena — lagi-lagi — lazimnya tempat-tempat tersebut dikunjungi bukan untuk dirinya sendiri, melainkan untuk tempat-tempat lain yang menanti seusai dari sana. Kecuali mungkin kamu memang gemar nongkrong di halte atau mangkal di stasiun.

Berada dalam sebuah liminal space, kalau betul-betul dirasakan, memunculkan semacam sensasi “mengambang” yang janggal. Seperti ada urusan yang perlu dituntaskan, seperti ada tujuan yang harus dicapai — tapi urusan dan tujuan itu semua berada di tempat lain. Semakin ganjil liminal space-nya, semakin kuat pula sensasi mengambang-nya.

Kebetulan, teman yang menceritakan ini kepadaku bukan lulusan arsitektur. Selain karena belum lulus, memang ia tidak berkuliah di jurusan arsitektur. Barangkali ia cuma sok tahu, dan cerita ini cuma mengada-ada, tapi aku tetap menyimaknya. Menarik juga, pikirku saat itu.

Pun, pekan lalu aku melamunkan ini di ruang tunggu bandara — yang menurutnya adalah salah satu liminal space paling ganjil.

Pernah merasa kamu jadi mudah termenung saat berada di bandara?

Menurut asas liminality, kamu tidak sendirian.

T: “Don’t make promises you can’t keep.”

P: “Yeah, but those are the best kind.”

Beberapa orang tertentu — kata-kata yang mereka ucapkan, hal-hal yang mereka lakukan — sering membuatku merasa bahwa sangat sukar menakar harga kita di mata orang lain.

Dalam konstruksi sosial saat ini, ada beberapa ukuran yang lazim digunakan untuk menaksirnya. Misalnya; taraf kesesuaian kepribadian, kemiripan minat, frekuensi dan intensitas pertemuan, bahkan hal-hal mikro seperti durasi kontak mata atau kecepatan membalas pesan.

Namun, agaknya itu semua masih rancu dan menyisakan ruang untuk perdebatan. Sekalipun sudah ada (banyak) cabang ilmu yang didedikasikan untuk meneliti hubungan antar manusia, masih saja ada saat-saat di mana kita berpikir bahwa kita tak pernah benar-benar tahu.

Barangkali ilmu pengetahuan belum sampai sejauh itu (atau kita saja yang terlalu awam dan malas belajar). Kadang aku berandai-andai, akankah tiba saatnya ilmu sosial dapat dikategorikan sebagai eksakta? Dan, kalau itu terjadi, apakah dunia akan jadi lebih baik atau lebih buruk karenanya?

Terlepas dari itu, menurutku, pada saat ini pun ada setidaknya satu alat ukur yang bisa diandalkan. Untuk memastikan, perhatikan:

Jika kamu berharga di mata seseorang, dan ia sungguh-sungguh peduli padamu, sudah tentu ia akan menepati janji — pertandanya tak bisa lebih jelas dari itu.

Begitu pun sebaliknya.

Di awal bagian ini, aku mengutip sepotong dialog, yang tanpa diberi konteks agaknya mudah untuk keliru ditafsirkan menjadi “Janji paling baik adalah yang tak bisa ditepati.” — tapi tentu bukan begitu maksudnya.

Bagi yang pernah menonton filmnya, dan familier dengan adegan yang menayangkan percakapan tersebut, barangkali akan punya interpretasi mirip denganku: Jenis janji paling baik adalah yang memaksamu menepatinya apa pun yang terjadi, bahkan ketika kamu jelas-jelas tak sanggup.

Benarkah itu?

Lo udah bebas, ga perlu lagi jadi diri lo yang kita kenal di sini; kata seorang teman — atau kakak? — beberapa hari sebelum aku memulai tualang.

Menurutnya, kita terlalu mudah membiarkan diri kita didefinisikan oleh lingkungan sekitar. Kecenderungan yang bisa baik dan juga bisa buruk, tapi seringkali buruk — apalagi setelah berkutat dengan kerumunan yang sama dalam rentang waktu yang lama. Terlalu mudah bagi kita untuk tanpa sadar terbentuk menjadi seseorang yang tidak kita kehendaki.

Andaikata, pada awalnya kamu adalah seseorang yang jarang bicara. Lalu orang-orang di sekitarmu berkomentar Kamu pendiam sekali, ya. Selentingan-selentingan itu lantas memperkuat pemahamanmu bahwa Aku adalah orang yang pendiam. Akhirnya kamu betul-betul menjadi pendiam.

Sebagaimana diangkat para sosiolog dalam bahasan mengenai Self-fulfilling prophecy (Ramalan yang terpenuhi dengan sendirinya), yang tergambarkan dengan gamblang melalui teorema Thomas:

“If men define situations as real, they are real in their consequences.”

Prasangka orang terhadapmu, sangat mungkin berubah menjadi realitasmu yang baru. Sungguh fenomena yang menyebalkan. Mujurnya, kalau kamu mau, persoalan tersebut masih mungkin dibenahi.

Salah satu cara paling praktis (yang kuketahui) adalah bepergian seorang diri ke tempat yang sepenuhnya asing, lalu menetap di sana cukup lama untuk memberimu pandangan baru tentang dunia. Sekembalinya dari sana, niscaya sebaliknya berlaku: dunia akan punya pandangan baru tentangmu.

Hal paling menarik dari sebuah kelana tunggal, menurut temanku yang tadi, adalah privilese untuk melupakan diri — untuk menghapus persona yang dahulunya tersusun berlandaskan pandangan orang-orang di sekitar.

Lembaran yang lantas kembali polos itu, meratakan jalan untuk serangkaian proses overwriting yang mendebarkan sekaligus menakutkan.

Barangkali, ini waktu yang baik untuk menulis ulang definisi “aku” dengan penaku sendiri. Mumpung bisa, sejenak saja. Lama-lama pun aku akan punya lingkaran baru, dan pada waktunya mereka akan turut mendefinisikan aku. Saat-saat itulah yang kelak menentukan: Apakah aku suka diriku yang ini? Ataukah aku harus pindah lagi? — tapi itu urusan nanti.

Baiklah, waktunya lupa diri.

Laluan Nirkaidah
Odin, 26 Februus
A.D. 2020

Buang aku pergi, aku tak sabar pulang.

_

Weaving insights from Philosophy, Psychology, and Urbanism to make sense of the human condition.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store