Arrivederci!

— sampai jumpa lagi!

Foto: Dellaneira Syifaa, 2018

Empat kali tiga ratus enam puluh lima hari, tambah satu. Terasanya seperti seumur hidup. Segala yang aku tahu terangkum dalam sepanjang rentang waktu itu. Berat meninggalkannya tapi takkan jadi masalah berarti. Aku sudah terlalu biasa melepaskan hal-hal berharga, yang ini pun takkan berbeda.

Kalau dipikir-pikir, pada masa itulah aku pertama mempelajari cara untuk menjadi manusia.

Bisa diterka setidaknya ada cibiran dari separuh pasang mata yang membaca kalimat sebelumnya. Mungkin menurut mereka, aku terlalu melebih-lebihkan hal yang biasa saja. Untukku, merekalah yang terlalu dangkal dalam memaknai kemanusiaan — atau terlalu arogan karena sudah bisa manusiawi jauh sebelumku.

Sekarang pun aku masih saja berengsek. Masih sinis, skeptis, melankolis, reklusif, over-introspektif. Masih antipati dengan cara semesta bekerja. Masih sering diam menyaksikan ketidakadilan tanpa punya keberanian untuk mengubahnya. Masih pengecut, selalu sengkarut sendirian dalam lamunan.

Angkasa mengiyakannya, beserta selisihan rintik dengan terik. Tiap selangan detik wajahnya dan wajahku berubah mimik, menyatakan persetujuan atas segala cela yang kupunya berikut keberhasilanku melampauinya. Setelah lega menerima diriku sendiri, mungkin sudah tiba saatnya memperbaiki dunia.

Dunia kecilku sendiri, maksudnya. Belum sanggup aku memberantas genosida di Palestina. Atau malnutrisi di Ethiopia. Xenofobia di Amerika. Idiokrasi di Indonesia (apakah benar ada?). Mungkin nanti.

Sekarang wisuda saja dulu, lalu cari kerja.

Euforia kolektif seringkali fana. Kalau ternyata aku tidak ikut gembira, bagaimana? Aku pun tidak sedih. Sudah bertahun lebih aku tidak pernah menangis, bahkan pada saat-saat di mana air mata adalah sesuatu yang wajar. Mungkin aku ini memang sebegitunya tak punya perasaan.

Selain toga, medali, ijazah, dan tiga karung hadiah; apa lagi yang penting? Kalau aku bilang pengalaman, pelajaran, pertemanan; mungkin hanya akan terdengar seperti omong kosong. Sebagaimana kerap kuungkapkan: hal-hal yang seharusnya penuh arti sudah terlalu sering didangkalkan orang belakangan ini, maknanya hampir hilang bahkan ketika kuucapkan sendiri.

Tapi toh tetap kutuliskan lagi.

Dunia luar mengerikan sekali, kata kakak-kakakku. Mereka rindu pulang ke rumah yang baru saja kutinggalkan. Mereka pun cukup dewasa untuk mengabaikan naluri berbalik kembali dan tetap teguh menatap ke depan. Syukurlah aku punya banyak sosok yang bisa dijadikan panutan. Yang tidak ciut di hadapan paceklik. Seberapa pun seramnya kilas masa depan, sejatinya tidak relevan. Dalam prinsip atau pun praktik, mereka telah mengajariku:

Bahwasanya takut itu maya, yang nyata adalah bahaya.

Makanya bahaya perlu dihindari, tapi takut harus dihadapi.

Jangan dulu pergi, kata adik-adikku. Manis sekali kalian, bocah-bocah ingusan. Aku terlalu sayang pada ulah kalian yang kadang goblok dan kadang membanggakan. Kalau dibiarkan saja bisa-bisa seumur hidup aku keasyikan mengamati kalian tumbuh jauh melampaui batasan. Dulu aku di puncak dan kalian di kaki gunung, sekarang hampir satu dataran. Aku bersyukur pernah punya kesempatan untuk memandu kalian dalam pendakian yang lalu. Sekarang kalian harus melanjutkan sendiri — dan jangan lupa, kalau nanti sudah dewasa, sempatkanlah menyapaku di verteks berikutnya.

Kalau rindu, ingatlah ini: Aku pergi bukan karena aku tak peduli, tapi supaya aku tak peduli. Kalau tidak rindu ya sudah, baguslah kalian sudah mandiri.

Mulai saat ini, jaga rumah jadi tugas kalian.

Sedangkan untukku, ini waktunya vakansi dan avontur.

Untuk semua budiman dan bajingan pengisi semesta kecilku, kucantumkan dalam kolase untuk mengutuhkan pesan apresiasi. Maaf kalau potretmu tidak ada. Kadangkala aku alpa, tolol pula. Sial juga tidak semua sempat berjumpa.

Kendatipun demikian, amanatku tidak terkikis:

Terima kasih karena telah menyelamatkan hidupku.

Sampai bertemu.

Image for post
Image for post
Image for post
Image for post
Image for post
Image for post
Image for post
Image for post
Terima kasih!

Terakhir —

Jarak pendek perlahan memanjang berpindah satuan:

Inci jadi jengkal, jengkal jadi hasta, hasta jadi kaki, kaki jadi langkah.

Terus sampai ujung jalan.

Hingga langkah menghampiri lagi, melampaui inci;

— sedekat urat nadi.

Kalau sudah waktunya kembali.

Kota Kyo
Thor, 25 Okto
A.D. 2018

Sial, sekarang aku terpaksa bangun.

_

Weaving insights from Philosophy, Psychology, and Urbanism to make sense of the human condition.

Get the Medium app

A button that says 'Download on the App Store', and if clicked it will lead you to the iOS App store
A button that says 'Get it on, Google Play', and if clicked it will lead you to the Google Play store